Jombang Wisata Religi di KAMPUNG SANTRI

Siapa sih yang tidak kenal Jombang. Kota yang Banyak melahirkan tokoh terkenal Indonesia yang dilahirkan di Kabupaten Jombang, di antaranya adalah Presiden Republik Indonesia ke-4 yaitu KH Abdurrahman Wahid, pahlawan nasional KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim, tokoh intelektual Islam Nurcholis Madjid, serta budayawan Emha Ainun Najib dan seniman Cucuk Espe. Konon, kata Jombang merupakan akronim dari kata berbahasa Jawa yaitu ijo (Indonesia: hijau) dan abang (Indonesia: merah). Ijo (hijau) mewakili kaum santri (agamis), dan abang (merah) mewakili kaum abangan (nasionalis/kejawen). Kedua kelompok tersebut hidup berdampingan, dan harmonis di Kabupaten Jombang. Bahkan kedua elemen ini digambarkan dalam warna dasar lambang daerah Kabupaten Jombang
Jombang juga dikenal dengan sebutan Kota Santri, karena banyaknya sekolah pendidikan Islam (pondok pesantren) di wilayahnya. Bahkan ada pameo yang mengatakan Jombang adalah pusat pondok pesantren di tanah Jawa karena hampir seluruh pendiri pesantren di Jawa pasti pernah berguru di Jombang. Di antara pondok pesantren yang terkenal adalah Tebuireng, Denanyar, Tambak Beras, Pesantren Attahdzib (PA), dan Darul Ulum (Rejoso).
Keberadaan Pondok pesantren tersebut sudah seperti sebuah kampung halaman sendiri bagi para santri karena segala macam aktivitas dan kebutuhan semuanya hampir terpenuhi di pondok peseantren, agar para santri ini dapat tenang dalam menjalankan kegiatan belajar secara maksimal. Mulai dari kebutuhan pendidikan sampai kebutuhan pribadi rata rata di semua ada di seputar area atau kompleks pondok pesantren di Jombang
Potensi pondok pesantren selain sebagai sebuah aktivitas pendidikan agama dan umum, rata rata pondok pesantren di Jombang sudah mulai terbuka menerima kunjungan dari keluarga santri maupun dari berbagai daerah untuk kepentingan studi banding, pondok kilat, pondok romadhon bahkan kunjungan seperti biasa. Di beberapa pondok pesantren juga menyediakan tempat penginapan bagi wali santri
Yang lebih spesifik di Jombang terdapat kompleks makam tiga ulama besar ini berada di sekitar area Pondok Pesantren Tebuireng, tepatnya di Desa Cukir, Kecamatan Diwek. Pesantren ini didirikan oleh K.H. Hasyim Asyari pada tahun 1899 M. Beliau juga merupakan salah satu pendiri organisasi islam Nadhatul Ulama. Lalu ada makam putera dari K.H. Hasyim Asy’ari, yang tak lain adalah K.H. Wachid Hasyim. Beliau adalah Menteri Agama pertama yang ada di Republik Indonesia. Selain itu disana juga terdapat makam K.H Abdurrahman Wahid yang biasa kita kenal sebagai Gus Dur, Bapak Pluralisme Indonesia sekaligus Presiden ke empat Indonesia.

Kompleks makam 3 Ulama yang memiliki peran sangat penting dalam mengembangkan islam di Indonesia ini memang selalu terbuka bagi masyarakat umum, tidak dikenakan biaya sedikit pun bagi pengunjung yang ingin berziarah. Ramainya peziarah dan bahkan kawasan makam Gus Dur merupakan Destinasi Wisata Religi bertaraf internasional yang dimiliki Kabupaten Jombang, yang ditetapkan menjadi yang terbaik pada Anugerah Wisata Jawa Timur (AWJ) 2017 untuk kategori Daya Tarik Wisata Budaya
Sebagai kawasan wisata yang menyatu antara pondok pesantren dan masyarakat, sudah barang tentu Makam Gus Dur beserta dengan Makam Ayah dan Kakek Gus Dur memberikan berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar dan utamanya kepada pondok pesantren Tebu Ireng. Demikian pula masyarakat sekitarnya, yang sebagian membuka usaha makanan minuman dan menjual oleh oleh untuk keperluan souvenir para peziarah. Sebagian warga juga Sarana transportasi dan akomodasi di Jombang juga mendapatkan berkah karena meningkatnya kunjungan para peziarah yang sedang melakukan wisata religi.
Sebagai salah satu dampak dari wisata religi di makam gus dur adalah sebagian warga di area Tebuireng merubah pekarangan rumah sebagai lahan parkir dan juga membagi rumah untuk tempat berjualan. Tidak hanya itu, pada awal-awal makam gusdur dibuka untuk umum, banyak keuntungan yang diperoleh oleh pengemis yang terdapat di area makam. Itu sisi lain dari aktifitas wisata religi yang lazim banyak di jumpai di makam makam tokoh lainnya.

Keberadaan wisata religi di Jombang khususnya di Makam Gus Dur mempunyai peranan besar terhadap pembangunan pariwisata di Jombang, bukan sekedar pendapatan daerah melainkan masyaraka sekitar turut terlibat dalam perubahan sosial ekonomi. Suasana kampung wisata semakin dekat dan terasa menyatu dengan makam Gus Dur dan pondok pesantren Tebuireng. Bahkan daya tarik wisata lainnya yang berada di Jombang maupun daerah lainnya turut merasakan dampak dari mobilitas wisatawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *