Oleh : Ki Demang
Penggagas Kampung Budaya Polowijen

Disebut juga dengan judul LEMBU GUMARANG —LALER WILIS. Adalah salah satu lakon yang cukup digemari dalam pertunjukan dramatari Wayang Topeng tradisionil di Malang. Ditarikan oleh tujuh sampai sepuluh penari untuk memerankan kurang lebih 35 peran. Dengan demikian setiap penari memegang beberapa peran dengan cara mengganti topengnya.

Pementasannya di arena terbuka dengan satu sisi tertutup tirai dimana di belakangnya dapat dipergunakan untuk persiapan para penari. Penonton ada di tiga sisi yang lain. Gamelan disalah satu sisinya sedang dalang duduk di sudut panggung sehingga dapat mengatur keluar masuknya pemain maupun mengatur para penabuh gamelan.

Pertunjukkan lakon ini diselenggarakan untuk pesta-pesta kawin, khitanan, bersih desa atau pesta-pesta yang lain. Pementasannya berlangsung pada jam 09.00 -17.00 siang atau pada jam : 21.00 – 05.00 malam hari. Dialognya dilakukan oleh sang Dalang sementara para penarinya berpantomime mengexpresikan isi dialog tersebut. Hanya tokoh Semar, Bagong, Patrajaya saja yang berdialog sendiri. Ada anasir trawesti dimana peran-peran wanitanya tetap dilakukan oleh penari-penari laki-laki.

Adapun isi ceritanya adalah sebagai berikut : Adalah seorang pertapa mempunyai dua orang anak yaitu Walang Semirang yang laki-laki dan Walang Wati yang perempuan. Banyak para raja ingin mem persunting Walang Wati tetapi gadis ini belum bersedia kawin. Lagi pula kakaknya berniat mencarikan jodoh satriya yang tangguh. Karena itu barang siapa dapat mengalahkan Walang Semirang dalam perkelaian maka dialah yang berhak mempersunting adiknya itu. Tetapi sang pertapa tidak menyukai keadaan itu, lalu kedua anaknya itu disuruh bersembunyi saja di sebuah goa agar tidak lagi di pertanyakan orang. Kedua anak itupun pergi memenuhi perintah ayahandanya. Tetapi lama kelamaan kedua kakak beradik itu bahkan jatuh cinta satu sama yang lain.

Mengetahui hal itu ayahanda amat marah lalu dikutuklah mereka menjadi seekor lembu dan seekor lalat. Kutuk itu baru akan berakhir bila nanti ada seorang satriya yang berhasil mematahkan tanduk si lembu. Kedua mahluk itupun disuruhnya pergi ke suatu tempat dengan tugas menolong siapa saja yang diganggu orang dalam perjalanan.

Akhirnya mereka bertemu dengan Sang Panji Asmarabangun yang sedang pergi mencari isterinya, Sekartaji. Terjadilah perkelahian dengan si Lembu namun Panji dapat mengalahkannya dan kembalilah si lembu menjadi Walang Semirang sebagai semula. Demikian pula dengan si Lalat, ia pun kembali menjadi Walangwati. Walangwati diperisterikan Sang Panji dan Walang Semirang menjadi prajurit Sang Apanji sampai dapat mengalahkan Bali.

Penari-penarinya mengenakan topeng dengan berbagai karakter menurut peran-peran masing-masing. Karakter itu ditandai oleh warna serta bentuk-bentuk topeng. Mereka mengenakan mahkota dari kulit, kain batik dengan lipatan samping kiri, celana panji-panji, setagen, sampur di pundak, keris, gongseng serta atribut-atribut hiasan seperlunya. Iringan gamelannya terdiri dari serangkaian gendhing-gendhing Jawa Timuran berlaras Pelog semua. Instrumennya adalah gamelan Pelog Lengkap. Lakon ini sering kali dibuat fragment juga karena orang ingin melihat yang singkat-singkat juga.

Sumber : diringkas dari buku Folklor Jawa, Dr. Purwadi, Pura Pustaka Yogyakarta, Cetakan I Oktober 2009

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *