Malang-Radha Krishna Devi, didampingi guru membatik Eyang Taty, medar Udeng Batik Singhasari ato Batik Narashinghamurti. ” Kita semua tahu itu nama lain dari Mahisa Cempaka, putra Eyang Kendedes & Sang Amurwabhumi yg lebih dikenal dengan nama Ken Arok, sebuah nama leluhur raja-2 Jawa dlm serat Pararaton,” jelas Radha di Rumah Seni Budaya Singhasari sabtu malam (29/1) sebelum gancaran Pararaton dibedah oleh arkeolog M. Dwi Cahyono, M. Hum.

Radha sepintas juga menyebut batik ini sebagai batik spiritual, apa itu? Disamping hiasan Srenggana Singhasari, aksesories kokot pada pending ato hiasan ikat pinggang yg dikenakan Ken Dedes pada arca Prajnyaparamitha sebagai arca pendarmaan Ken Dededes, Radha juga melakukan isen-isen batiknya dengan ikon unsur alam, api – bumi – air dan udara. Lalu ia juga medar filisofi eyang Mahisa Cempaka yg memilih menaklukkan musuh-musuh pendekatan non fisik dahulu, itu sebabnya penyerangan yg dilakukan dng laku sirep – surup ato menjelang matahari terbenam / magrib.
Sehingga Mahisa Cempaka bisa menundukkan Bali dan berkuasa di sana tanpa orang Bali merasa ditekan dalam hidup bebrayan.

Perihal petitih Narashinghamurti yg berhasil menjadi raja kembar dng Panji Semingrat atao Ranggawuni yg terkenal bak “Dua Naga dalam Satu Liang” Radha terbesit akan mencanting dlm batik kain untuk baju maupun kain panjang.

Eyang Taty yg sudah berusia 88 tahun, malam itu juga diberi kesempatan oleh RM. Wibie Maharddika Suryometaram untuk medar Batik Singhasari gagasannya itu pernah menyabet juara 1 lomba batik Malang dan juara harapan di tingkat Jatim. Eyang Taty juga memberikan nilai batik ini sebagai batik keluarga besar yg sangat erat hubungannya dalam 3 generasi, Nenek – ibu – anak, yg saling asah asih dan asuh

Penulis. S.Suwito

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *