Siapa yang tidak mengenal Kampoeng Heritage Kayoetangan? Sebuah tempat berada di sebelah Kota Malang yang memiliki sejuta cerita. Tak berlebihan jika pada tahun 2019 Walikota Malang, Sutiaji menetapkan wilayah yang konon bernama Kayutangan Street ini sebagai Ibukota Heritage Kota Malang. Tentunya ada alasan dibalik penyematan nama tersebut. Hingga pada tahun 2018 Kampoeng Kayutangan dikenal sebagai jujugan wisata.

Wisatawan datang dari dalam maupun luar Kota Malang. Spot-spot yang ditata begitu apik dengan nuansa tempo dulu menjadi pilihan para milenial untuk berfoto. Tak hanya itu, rumah-rumah peninggalan Kolonial Belanda seperti rumah namsin, rumah 1870, rumah penghulu, rumah jengki, rumah kebaya, rumah nyik aisyah, rumah mbah ndut, rumah cerobong, rumah kafe dan banyak lagi lainnya. Ada pula Makam Mbah Honggo yang dikaitkan dengan Pangeran Diponegoro. Sungguh menarik untuk menjadi wisata sejarah.

Saat pandemi Covid-19 melanda, secara langsung berimbas pada Wisata Kampung Kayutangan. Bagaimana tidak, tempat wisata yang tiap hari menerima kunjungan sejak Maret 2020 harus menutup aktivitasnya. Tidak patah semangat, disaat masa transisi menuju New Normal. Kampung yang bertoponimi dari nama tumbuhan ini membuat satu gebrakan dengan menyajikan sesuatu yang baru pula.

“Kayutangan sejak 2018 hingga 2019 dikenal sebagai destinasi wisata heritage, namun sejak Maret 2020 kita harus menutup kegiatan karena adanya wabah Covid-19. Menyongsong New Normal, kita akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Jika dulu kita hanya menyajikan spot untuk swa foto, kini ada tambahan story line yakni narasi cerita dari sebuah objek yang dapat menggelitik wisatawan untuk datang” ungkap Agung H Buana, pencetus dari kegiatan penulisan Story line, dihadapan para undangan yang terdiri dari karang taruna Kayutangan, pemilik rumah kayutangan dan para pemerhati Kayutangan. Sabtu (4/6/2020).

Kegiatan yang dilaksanakan di rumah 1870 berjalan penuh kehangatan dan keakraban. Tentunya tetap memperhatikan kesehatan dengan mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak. Lebih lanjut, Agung panggilan akrab Kepala Seksi Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Malang menambahkan bahwa story line ini akan di sayembarakan dan diikuti oleh warga Kayutangan. Ada beberapa kriteria tulisan yaitu mengandung sebuah lintasan peristiwa, toponimi, kuliner dan sejarah keluarga. Story line terbagi dalam berbagai peristiwa yaitu Kisah klasik Hindu-Budha, perkembangan Islam, masa perang Diponegoro, peristiwa culture stelsel, perkembangan Kabupaten Malang, perkembangan Gemeente, masa Bouwplant, pendudukan Jepang dan masa di era tahun 1960.

Kota Malang tidak terpisahkan dari Kayutangan. Koridor Kayutangan menjadi pusat perdagangan ditengarai adanya Rajabally. Bahkan peristiwa penting dan bersejarah pun berawal dari sini. Saat rapat Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada tahun 1947 bertempat di Gedung Sociteit Concordia yang merupakan wilayah Kayutangan. Dihadiri para pejabat teras, sebut saja Ir Soekarno, Moh Hatta, Sutan Syahrir, Adam Malik, Bung Tomo, Ki Hajar Dewantaradan masih banyak para pembesar wakil negara-negara di dunia. Ada pula Gereja Kayutangan, yang notabene gereja Katholik pertama di Kota Malang. Hotel Pelangi hotel pertama di Kota Malang dengan gaya Kolonial.

Lebih menarik terdapat tokoh Johny Mangi. Petinju sekaligus atlet terjun payung yang meninggal secara tragis dengan cara ditembak. Tokoh keturunan Nusa Tenggara Timur yang berdomisili di Kayutangan menunjukkan bahwa terdapat toleransi yang begitu tinggi.
“Kayutangan merupakan simbol kearifan lokal, disini miniatur Kota Malang yang hidup berbagai macam ras, memiliki sejuta cerita yang layak untuk dijual dan dikemas dalam story line” ungkap Abdul Malik saat menjadi pemateri.

Pria yang juga menjadi bagian dari Museum Musik Indonesia ini memaparkan jika story line dapat menyedot wisatawan dengan kekuatan cerita di dalamnya. Dalam pembuatan narasi para generasi muda yang tergabung dalam Karang Taruna dibekali ilmu pengetahuan menulis. Kumpulan dari berbagai cerita akan dirangkum dalam sebuah buku yang dapat menjadi sebuah kenangan bagi wisatawan yang datang.

Malang, 4 Juli 2020
Penulis : Hariani
Humas Forkom Pokdarwis Kota Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *