Hari sabtu (26/9) merupakan hari istimewa pada saat Bedah Pararaton Serial ke 8 datanglah serombongan wanita sebaya mengenakan kostum kebaya dan berkonde. Acara yang di bedah langsung oleh sejarawan dan arkeolog ternama M. Dwi Cahyono yang di pandu oleh penyiar budaya Wibie Suryomentaran dari Komunitas Peradaban mata air bagaimana saat menarik perhatian peserta diskusi di rumah Makan Ndalem Ratu Singosari Malang.

Selain semua peserta diskusi baik laki-laki maupun perempuan mengenakan pakaian adat jawa, wanita wanita berkebaya merasa senang dengan acara tersebut karena tema yang di angkat tentang Ken Dedes. Selain itu datan pula rombongan dari suku Tengger Desa Mojorejo Tosari Pasuruan yang turut serta menyimak acara serta membacakan mantra mantra doa. Hadir pula dalang wayang kulit Ki Ardhi Purboananto yang turut serta memberikan ulasan.

Ndalem Ratu yang berada persis di kantor Kelurahan Candirenggo KeCamatan Singosari memang bagus untuk di buat swa foto karena suasananya khas jawa. Kesempatan itu juga dilakukan oleh 10 wanita berkebaya dan berkonde lengkap untuk mengabadikan momentum tersebut dan merasa tema Ken Dedes mewakili kaumnya.

Bicara masalah konde saat ini, penggunaan konde makin beragam. Namun, hanya terbatas pada hari-hari tertentu saja. Berbeda pada kaum hawa zaman dulu, khususnya orang Jawa. Sanggul merupakan sesuatu yang lumrah dan selalu dipakai dalam kesehariannya. Di luar jenis-jenis sanggul yang makin berkembang dan beragam, sebenarnya ada beberapa macam sanggul Jawa Asli dan memiliki makna tersendiri.Berikut jenis-jenis sanggul Jawa asli dan maknanya,

Ukel Konde
Sanggul Ukel Konde adalah asli daerah Solo, Jawa Tengah. Awal mula Sanggul Ukel Konde yakni kala itu, remaja dan dewasa putri dari Solo umumnya berambut panjang. Karena itu, ketika hendak melakukan suatu kegiatan, mereka menggelung rambutnya sedemikian rupa hingga membentuk suatu konde. Akhirnya, seiring berkembangnya zaman, sanggul ini termasuk yang sering dipakai saat acara resmi di Indonesia. Ukel konde ini merupakan sanggul tradisional yang tetap digemari sampai sekarang.

Ukel Tekuk
Sanggul jenis ini umumnya digunakan di lingkungan Keraton Jogja, mulai dari permaisuri, selir, putri raja dan para inang pengasuh atau emban. Sanggul Ukel Tekuk sebenarnya hampir mirip dengan Sanggul Ukel Konde dari Solo, hanya penggunaan aksesoris dan pakaiannya yang membedakan. Wanita yang memakai sanggul jenis ini berarti ia telah beranjak dewasa, sekaligus melambangkan gadis tersebut ibarat bunga yang baru mekar. Karena telah beranjak dewasa, maka diharapkan mampu memikul tugas serta tanggung jawab dan layah dianggap sebagai ibu rumah tangga.

Ukel Ageng
Ini merupakan sanggul resmi atau kebesaran, bentuknya memanjang seperti kupu-kupu tarung. Bagi remaja putri, penggunaan Sanggul Ukel Ageng dipakai dengan sematan pandan. Sedangkan untuk wanita dewasa, sanggul ini dipakai dengan campuran pandan, bunga mawar dan kenanga.Untuk wanita yang telah bersuami, sanggul dipakai dengan hiasan bunga mawar teluk melati. Masyarakat Jawa tempo dulu meyakini, kupu-kupu yang hinggap di rambut (khususnya kupu-kupu kuning) merupakan pertanda bahwa rezeki dan kebahagiaan akan menghampiri si pemakainya.

Bokor Mengkurep
Sanggul ini umumnya dipakai khusus oleh pengantin wanita. Bentuknya menyerupai bokor yang menelungkup. Sanggul rambut diisi dengan irisan daun pandan dan dirajut dan ditutup rajutan bunga melati. Perpaduan pandan dan melati memancarkan keharuman semerbak yang berkesan religius. Ini sekaligus bermakna simbolis bahwa pengantin diharapkan membawa nama harum dirinya yang bermanfaat untuk masyarakat

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *