PASURUAN KOTA TUA KOTA PUSAKA

Salah satu aset penting yang dimiliki Kota Pasuruan saat ini adalah keberadaan bangunan kuno yang memenuhi unsur sebagai bangunan cagar budaya., aset itu saat ini mulai dilirik oleh Pemkot untuk kemudian dikelola secara optimal dengan titik muara dapat memberikan benefit kepada masyarakat Kota Pasuruan sehngga keberadaan bangunan tua ini dapat memperteguh eksistensi Kota Pasuruan sebagai kota tua.

SETELAH ditetapkan sebagai Kota Pusaka, Pemkot Pasuruan mulai berbenah diri. Sejumlah icon bangunan yang menjadi simbol kota tua di beberapa kawasan akan difungsikan dan dioptimalkan kembali. Berdasarkan inventarisasi yang pernah dilakukan Badan Arkeologi Yogyakarta beberapa tahun silam, bangunan kuno di Kota Pasuruan yang mempunyai potensi dijadikan cagar budaya ada 110 bangunan. Namun untuk penelitian yang dilakukan Bapeda ada beberapa kriteria dalam pemilihan obyek penelitian. Diantaranya adalah bangunan harus berusia minimal 50 tahun, memiliki ciri arsitektur khas Arab, China, Tradisional maupun kolonial serta berlokasi di jalan beraspal yang dapat dilalui kendaraan roda empat.

Beberapa bangunan kuno di antara Gedung BPKA Kota Pasuruan, Gedung P3GI, Gedung Wolu, Gedung Yayasan Pendidikan Pancasila, Gereja Katolik Santo Antonius Padova, GPIB Pniel Pasuruan, Klenteng Tjoe Tik Kiong Pasuruan, Menara Air Pasuruan, Rumah Singa, SDN Pekuncen, SMK Untung Surapati, Stasiun Kereta Api Pasuruan yang dibangun pada zaman pemerintahan Belanda akan dibuka untuk umum.

Masyarakat yang selama ini hanya mengenal luarnya saja, bisa mengenal lebih jauh pengembangan Kota Pusaka dipusatkan pada dua ruas jalan Balai Kota Pasuruan hingga Jalan Pahlawan yang banyak berdiri gedung-gedung bersejarah. Berbagai kegiatan masyarakat yang selama ini bertempat di kompleks GOR akan dipindahkan dikawasan Kota Pusaka.

Banyaknya bangunan tua di Kota Pasuruan saat ini tidak lepas dari rekam jejak di masa lalu. Dimana Kota Pasuruan di masa lalu pernah menjadi daerah yang cukup menggiurkan untuk melakukan perdagangan dengan keberadaan bandara laut. Adanya bandara laut ini pula yang menarik minat warga China daratan merantau dan kemudian tinggal di Kota Pasuruan. Tercatat nama Kapitan Han yang pernah menjadi saudagar kaya raya dan bangunan tempat tinggalnya hingga sekarang masih ada. Keberadaan masyarakat China perantauan ini pula yang menjadikan di Kota Pasuruan banyak ditemukan bangunan-bangunan kuno beraksen China. Namun gayanya tidak sepenuhnya China. Istilahnya, bangunan-bangunan itu menganut gaya electisme yakni mencampurkan budaya  China, lokal dan Eropa. Inilah yang nampak pada bangunan gedung wolu ataupun rumah singa,.

Kejayaan Kota Pasuruan terus berlanjut dimasa kolonial dengan dijadikannya sebagai ibukota residensi. Status sebagai ibukota residensial inilah yang mendorong dibangunnya berbagai fasilitas publik seperti rumah sakit, gedung perkantoran maupun permukiman untuk orang-orang Hindia Belanda. Bangunan-bangunan itu kebanyakan didirikan di sepanjang kawasan Hereenstrat (Jalan Pahlawan) yang di masa lalu menjadi kawasan elit. Ciri khas yang melekat kuat di bangunan-bangunan yang didirikan semasa jaman kolonial ini adalah gaya arsitekturnya yang menganut aliran Indische Empire

Sarana dan prasarana untuk mendukung Kota Pusaka sedang persiapkan. Sehingga masyarakat akan merasa nyaman saat berada di kawasan yang dapat dikembangkan sebagai kawasan wisata. Berbagai icon bangunan bersejarah ini, akan dipadukan dalam wisata Kota Pusaka sebagai sarana pembelajaran masyarakat. Bahwa Kota Pasuruan sebagai kota tua, memiliki sejarah panjang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saat ini sebanyak 20 bangunan bersejarah telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya yang harus dilindungi. Puluhan bangunan bersejarah lainnya telah diajukan untuk dilakukan verifikasi sebagai pendukung wisata Kota Pusaka. Saat ini telah diajukan lagi sekitar 80 unit bangunan untuk dilakukan verifikasi lembaga kepurbakalaan di Trowulan. Bangunan yang lolos verifikasi akan menjadi pendukung pengembangan Kota Pusaka.

Kota pusaka harus punya ciri khas yang berbeda dengan kota yang lebih dulu mendapatkan julukan kota pusaka. Meski Kota Pasuruan tengah disiapkan menjadi kota pusaka, namun identitas kota santri tetap melekat. Untuk mewujudkan target itu, sejumlah program dilaksanakan untuk menguatkan identitas diri sebagai kota pusaka dan kota santri. Identitas sebagai kota santri dan kota pusaka, akan membangun Kota Pasuruan menjadi lebih baik. Tentu saja untuk mewujudkan itu semua, diperlukan koordinasi dengan semua pihak. Seperti budayawan, seniman, dan tentu saja ulama.

Pembangunan infrastruktur juga mengarah kepada persiapan sebagai kota pusaka. Pembangunan jam agung di GOR Untung Suropati, kawasan pedestarian di depan Stadion Untung Suropati, rehab alun-alun, dan kemudian pembangunan Pendapa Surga-Surgi, diharapkan memperkuat identitas Kota Pasuruan sebagai kota pusaka.

Terkait dengan upaya pelestarian bangunan kuno, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, seperti melakukan konservasi, restorasi ataupun rehabilitasi. Cara konservasi adalah dengan melakukan pemeliharaan, melindungi dan memanfaatkan bangunan secara efisien. Cara konservasi ini memberikan peluang untuk pemanfaatan bangunan kuno yang dapat memberikan keuntungan senyampang tidak mengancam keasliannya. Sejalan dengan pelestarian cagar budaya maka pemerintah Kota pasuruan setidaknya telah melengkapi dengan peraturan tentang pelestarian cagar budaya Kota Pasuruan

Berkunjung ke Kota Pusaka sejatinya adalah sedang melakukan wisata budaya dimana kita dapat belajar tentang sejarah masa lalu, perkembangan perubahan sosial ekonomi sekaligus mempelajari tentang tata ruang kota beserta bangunan arsitektur dan lingkungannya. Wisata budaya di kota tua sebagai kota pusaka  di Kota Pasuruan akan memberikan gambaran bahwa kota pasuruan memiliki kejayaan sebagai kota pelabuhan sekaligus perdagangan. Sejak jaman dahulu sebelum kolonial Pasuruan merupakan salah satu tujuan bagi para pendatang baik dari luar maupun dari dalam negeri, Di era Kahuripan, Kediri, Singosari, pada abad ke-10 atau sebelumnya, para pendahulunya transit di bandar/pelabuhan Pasuruan termasuk penyebaran agama Islam itu sendiri masuk di Pasuruan melalui pelabuhan, Semoga Kota pasuruan tidak hanya di kenal dengan sebutan kota tua saja melainkan kota pusaka dengan kejayaannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *