Oleh : Ki Demang

Penggagas Kampung Budaya Polowijen

Pada jaman dahulu, di Tanah Jawa ada orang raja bersaudara, mereka adalah Raja Jenggala yang bernama Lembu Amiluhur, Raja Kediri atau Daha yang bernama Lembu Amijaya, Raja Ngurawan, dan Raja Singasari.

Putra Raja Jenggala, Inu Kertapati nama lain dari Panji Asmoro Bangun, menikah dengan putri Raja Kediri, Dewi Candra Kirana yang Tidak lain adalah Sekartaji. Setelah menikah Panji mendirikan kota Pandhak bersama balatentaranya. Selain itu, banyak saudara Panji yang mengirimkan. Mereka kemudian mendirikan tempat tinggal di negeri Kediri. Para putra raja itu dipimpin oleh Arya Brajanata.

Pada suatu hari Raja Kediri keluar ke alun-alun dihadap Patih Jaya Badra, Panji, Arya Brajanata, Arya Wukir Sari, Wirun, Andaga, dan Kartala. Ketika itu datanglah utusan Raja Makasar yang bernama Patih Guna Saronta. Sedangkan balatentaranya yang berjumlah 8.000 yang dipimpin oleh empat daeng ditinggal di tengah hutan. Patih Guna Saronta menyerahkan surat kepada Raja Amijaya. Surat itu menyatakan bahwa Raja Makasar ingin berperang melawan Panji. Apabila Panji takut, ia harus menyerahkan semua istri dan harta bendanya kepada Raja Makasar.

Setelah Raja Kediri mengetahui isi surat itu, ia lalu memberikan surat itu kepada Panji. Panji segera menjawab surat itu bahwa ia menerima tantangan Raja Makasar itu. Patih Guna Saronta setelah menerima surat dari Panji segera terbang hendak menemui balatentaranya. Panji kemudian berkata kepada Raka Kediri bahwa ia dan balatentaranya akan menghadapi musuh dari Makasar. Panji kemudian kembali ke istananya dan disambut oleh istri-istrinya dan para selir.

Dewi Sekartaji nyidam buah ketan yang terdapat di hutan Tikbrasara, di sebuah taman kramat buatan Batam Drama, yaitu Taman Sari. Dewi Surengran, istri kedua Panji, menceritakan hal itu kepada Panji. Mendengar hal itu, Panji ingin pergi ke Taman Sari hendak mencari buah ketan untuk istrinya yang sedang nyidam itu. Tetapi, Dewi Sekartaji melarangnya karena Panji akan menghadapi musuh dari negeri Makasar. Panji tetap pada pendiriannya, ia berangkat ke hutan Tikbrasara dengan dua pengiringnya Bancak dan Dhoyok.

Prajurit Makasar sebanyak 8.000 orang telah membuat tempat istirahat di hutan. Mereka dipimpin oleh Patih Guna Saronta dan empat daeng, yaitu Daeng Malobah, Daeng Kawiskasah, Daeng Batobara, dan Daeng Makincing, Patih Guna Saronta siang dan malam mengintai keadaan istana Pandhak. Panji bertemu dengan prajurit Makasar itu. Panji dan kedua pengiringnya itu kemudian berperang dengan balatentara dari Makasar itu. Dalam peperangan itu Panji dapat membunuh empat daeng dan 400 perwira serta sebagian prajurit Makasar.

Patih Guna Saronta setelah mengetahui keadaan istana Pandhak lalu kembali ke hutan hendak menemui balatentaranya. Ia sangat terkejut karena pesanggrahan balatentaranya telah sepi dan keempat daengnya telah mati. Patih Guna Saronta tahu bahwa yang membunuh balatentaranya itu adalah Panji, tetapi ia tidak berani menghadapi Panji. Ia kemudian terbang kembali ke Makasar melapor kepada Raja Bramakumara.

Panji dan kedua pengiringnya beristirahat di bawah pohon beringin. Ia bertanya tentang Cungkup Kembang dalam Taman Sari di hutan Tikbrasara kepada Bancak. Bancak menjawab bahwa Cungkup Kembang itu ada di hutan ini. Konon yang membuat Cungkup Kembang itu adalah Batara Darma dan istrinya Batari Darmi. Setelah mendengar penjelasan dari Bancak itu Panji lalu meneruskan perjalannya hendak mencari buah ketan di Cungkup Kembang.

Panji sampai di Taman Sari, ia sangat heran dan takjub melihat keindahan taman itu. Panji kemudian mandi di taman itu. Setelah itu ia naik ke Cungkup Kembang yang terletak di tengah telaga. Setelah itu di dalam cungkup, tubuh Panji terasa segar dan hatinya menjadi jernih. Panji akhirnya dapat menemukan buah ketan, tetapi ia tidak langsung pulang ia tetap tinggal di dalam cungkup itu. Jika siang hari Panji berburu binatang dan malam harinya ia berdoa terus-menerus di dalam cungkup itu.

Raja Makasar, Bramakumara, dihadapan para istri, selir, dan dayang-dayangnya. Ketika itu datanglah Patih Guna Saronta menyampaikan surat balasan dari Panji. Surat itu menyatakan Panji akan menyongsong Raja Bramakumara. Seandainya Raja Bramakumara tidak datang Panji akan datang ke Makasar. Patih Guna Saronta kemudian bercerita tentang kehebatan Panji yang telah membunuh empat orang daeng serta memporakporandakan 8.000 balatentara Makasar hanya dibantu oleh dua pengiringnya. Raja Bramakumara mendengar cerita itu sangat terkejut. Patih Guna Saronta kemudian menyarankan agar Raja Bramakumara segera menyerang Kediri karena saat ini Panji tengah mencari buah ketan di tengah hutan. Jalan yang paling baik untuk mengalahkan Panji adalah melarikan istri Panji yang bernama Dewi Sekartaji. Apabila Panji kehilangan Dewi Sekartaji pasti ia akan kebingungan sehingga ia akan mudah ditundukkan.

Raja Bramakumara sangat senang mendapat saran dari Patih Guna Saronta itu. Raja Bramakumara kemudian minta bantuan kepada raja-raja bawahan, mereka disuruh menyusul ke Kediri. Setelah itu Raja Bramakumara dan Patih Guna Saronta terbang ke Kediri lebih dahulu karena hendak mengatur siasat. Sampai di Kediri mereka lalu beristirahat di tengah hutan sambil menanti malam.

Seperginya Panji ke hutan Tikbrasara, Dewi Sekartaji sangat sedih. Setiap malam ia berdoa kepada dewa agar diberi perlindungan. Suatu malam Dewi Sekartaji mendapat bisikan dari dewa bahwa malam ini di istananya akan kedatangan pencuri sakti, pencuri itu datang lewat angkasa . Dewi Sekartaji segera memanggil para madunya agar selalu waspada. Ratna Surengrana siap menjalankan perintah Dewi Sekartaji, ia berjanji hendak meronda bersama anak saudaranya, seperti Arya Brajanata, Andaga, Wirun, dan Kartala.

Sementara itu Panji masih tinggal di Taman Sari, jika malam ia selalu berdoa di dalam Cungkup Kembang. Siangnya ia berburu binatang di hutan. Ketika sedang berburu itu Panji didatangi Dewa Basuki. Dewa itu memberi tahu kepada Panji bahwa di istananya nanti malam akan ada kerusuhan. Oleh karena itu, Panji disuruh cepat-cepat pulang. Setelah mendapat berkat dari Dewa Basuki, Panji pulang dengan terbang ke angkasa dan dalam sekejap saja ia telah sampai di istananya.

Atas kehendak Dewa Yang Agung, Panji dapat menyilum sehingga tidak terlihat oleh orang banyak. Dengan demikian, Panji dapat mengetahui keadaan istananya tanpa diketahui orang. Bancak dan Dhoyok pun kemudian menyusul Panji ke istana. Malam itu, Panji sangat heran karena sanak keluarganya telah bersiaga. Akan tetapi, mereka tidak melihat Panji.

Sementara itu Raja Bramakumara dan Patih Guna Saronta terbang ke angkasa dan dalam sekejap saja telah sampai di atas istana Pandhak. Patih Guna Saronta segera turun ke tanah menyamar sebagai seorang pedagang yang kemalaman. Raden Andaga mengetahui penyamaran itu sehingga terjadilah perkelahian yang ramai. Patih Guna Saronta merasa kewalahan melawan Raden Andaga, ia lalu melarikan diri terbang ke angkasa.

Raja Bramakumara mengetahui Patihnya kalah ia lalu menertawakannya. Ia lalu menyuruh Patih Guna Saronta turun ke tanah untuk mencari lawan yang ringan. Patih Guna Saronta kemudian menemui Raden Wirun, melawan Raden Wirun, Patih Guna Saronta juga kewalahan dan ia melarikan diri lagi. Raja Bramakumara kemudian menyuruh Patih Guna Saronta agar mengeluarkan ilmu sirapnya. Patih Guna Saronta lalu membaca mantera-mantera sehingga seluruh penjaga istana Pandhak tertidur semuanya. Dewi Sekartaji mengetahui seluruh penjaga istana tertidur semuanya, ia segera memakai pakaian orang mati lalu berdoa kepada Dewa Yang Agung. Dewi Sekartaji berjanji apabila ia dipegang oleh penjahat itu lebih baik ia mati. Dewi Sekartaji berusaha membangun para madunya, tetapi tidak berhasil. la lalu bermeditasi dengan khitmad. Panji mengetahui hal itu sangat heran. Ia lalu bertanya-tanya mungkinkan akan ada pencuri sakti masuk ke istana itu?

Raja Bramakumara dan Patih Guna Saronta waktu itu masih berada di angkasa, mereka segera menukik ke istana Pandhak. Raja Bramakumara masuk ke istana. Panji melihat hal itu, ia lalu mengikuti Raja Bramakumara di belakangnya. Namun, Raja Bramakumara tidak dapat melihat Panji. Raja Bramakumara kemudian masuk ke tempat Dewi Sekartaji. Ternyata Dewi Sekartaji tidak mempan sirap Patih Guna Saronta, ia tidak tidur. Bahkan ia bermeditasi. Raja Bramakumara sangat tertarik kepada Dewi Sekartaji karena ia sangat cantik. Dewi Sekartaji melihat kehadiran pencuri sakti itu, ia lalu berkata kalau ia sampai disentuh oleh Raja Bramakumara lebih baik mati karena ia hanya mencintai Panji.

Raja Bramakumara terus merayu, tetapi Dewi Sekartaji tetap tidak menanggapinya. Raja Bramakumara sangat marah karena cintanya tidak ditanggapi, ia lalu mendekati Dewi Sekartaji. Ketika Raja Bramakumara akan memegang tangan Dewi Sekartaji, Panji segera menangkap tangan Raja Bramakumara dan diseret keluar istana. Panji lalu bertanding melawan Raja Bramakumara. Mereka masing-masing mengeluarkan senjata andalannya yang berupa panah. Tetapi panah Raja Bramakumara selalu dapat dikalahkan oleh panah Panji

(Naskah Cerita di Tulis ulang dan di Ringkas dari buku Mardiyanto, _Analisis Struktur dan Nilai Budaya dalam Panji Sekar._ Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1995)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *