Oleh : Ki Demang

Penggagas Kampung Budaya Polowijen

Di negeri Makasar, Patih Bramadenta telah mengundang para raja bawahan, diantaranya yang sudah datang yaitu Raja Kiana Mandra Saraba raja negeri Siyem, Raja Kiana Sekti Anjayengsentanu raja negeri Manila, Raja Kiana Surya Dadwa raja negeri Prajatisna dan Putri Kanaka Wulan (adik Raja Kiana Surya Dadwa). Mereka menuju ke Jawa dengan menggunakan perahu. Sampai di Surabaya mereka mendirikan pesanggrahan. Bupati Surabaya mengetahui hal itu lalu melapor kepada Raja Kediri bahwa musuh dari sebrang telah datang.

Para raja seberang itu beristirahat di pesanggrahan, mereka menyuruh Prajalena untuk mengintai keadaan Kediri. Arya Prajalena kemudian terbang ke Kediri hendak mencari Raja Bramakumara dan Patih Guna Saronta. Ia mendapat berita bahwa Raja Bramakumara dan Patih Guna Saronta telah melarikan diri dari Kediri. Prajalena kemudian kembali ke pesanggrahan melaporkan hal itu kepada Patih Bramadenta. Para raja bawahan di pesanggrahan itu berunding dan mereka memutuskan mengutus Prajalena untuk mencari Raja Bramakumara dan Patih Guna Saronta. Prajalena lalu terbang ke angkasa menelusuri desa-desa dan hutan-hutan. Akhirnya, Arya Prajalena bertemu dengan Patih Guna Saronta.

Prajalena memberitahu bahwa para raja bawahan telah siap di pesanggrahan di Surabaya. Ketika Prajalena dan Patih Guna Saronta tengah berbincangbincang hendak mencari Raja Makasar lewatlah balatentara Jenggala hendak ke Kediri berjumlah 10.000 prajurit. Pemimpin mereka adalah Pratama dan Pratista. Prajalena kemudian berperang melawan Prastista dan Patih Guna Saronta melawan Pratama. Kedua orang Makasar itu kewalahan menghadapi Pratista dan Pratama sehingga mereka melarikan diri, terbang ke angkasa. Mereka turun di sebuah hutan hendak mencari Raja Bramakumara. Sedangkan balatentara Jenggala itu lalu melanjutkan perjalanannya ke Kediri.

Patih Guna Saronta dan Arya Prajalena dapat menemukan Raja Bramakumara. Mereka memberitahukan kepada Raja Bramakumara bahwa para raja bawahan telah mendirikan pesanggrahan di pesisir Surabaya dan mereka telah siap maju ke medan perang. Raja Bramakumara sangat senang mendengar berita itu. Selanjutnya Prajalena menjelaskan kepada Raja Bramakumara bahwa raja bawahan yang sedang dalam perjalanan ke Jawa adalah Raja Kiana Dadwa dan adik perempuannya yang bernama Kanaka Wulan. Mereka kemudian menuju ke pesanggarahan hendak menemui raja bawahan itu.

Raja Bramakumara sampai di pesanggrahan dan ia disambut oleh Raja Siyem dan Raja Manila. Raja Bramakumara lalu menceritakan tentang kesaktian dan ketampanan Panji. Patih Guna Saronta pun juga menceritakan pengalamannya melawan Arya Brajanata. Para raja bawahan itu semua mentertawakan Patih Guna Saronta. Raja Brama Sakti berkata kepada Raja Bramakumara bahwa ia sanggup melawan Panji. Ketika para raja seberang itu tengah berbincang-bincang datanglah Raja Surya Dadwa dan Kanaka Wulan. Raja Bramakumara lalu menyambut kedatangan mereka.

Pada suatu hari para raja seberang itu bermusyawarah dan mereka bersepakat hendak menyerang Kediri. Barisan prajurit Makasar itu dibagi menjadi dua bagian, bagian depan terdiri dari 20.000 prajurit yang dipimpin oleh Patih Bramadenta, sedangkan sebagian lagi dibelakang terdiri dari raja bawahan dan balatentaranya yang sangat banyak. Raja Bramakumara pada barisan paling belakang.

Raja Kediri telah mendengar berita bahwa musuh dari seberang itu telah datang. Ia segera memanggil Panji, Arya Brajanata, dan Arya Wukir Sari. Mereka diperintahkan bersiap-siap karena musuh telah siap ke Kediri. Panji menegaskan bahwa ia sendiri yang akan menghadapi musuh dari seberang itu. Arya Brajanata berkata kepada Raja Kediri bahwa negeri Kediri perlu diminta bantuan kepada Raja Jenggala, Raja Ngurawan, dan Raja Singosari karena musuh jumlahnya sangat banyak. Raja Kediri menyetujui saran Arya Brajanata itu ia segera mengirim ke ketiga negeri itu.

Ketika musuh dari seberang itu sedang berunding, datanglah prajurit dari Jenggala berjumlah 10.000 dipimpin oleh Pratama dan Pratista, dibelakangnya para sanak saudara Panji yang dipirnpin oleh Arya Brajanata, Panji dan Wirun berada di depan barisan ini. Kemudian barisan paling belakang dipimpin oleh Wukir Sari.

Raja Bramasakti memerintahkan pahlawannya yang bernama Dhanyang Lobah baju ke medan perang. Arya Brajanata menyuruh Pratista menyongsong Dhanyang Lobah itu. Dhanyang Lobah dapat dibunuh oleh Pratista. Raja Manila segera menyuruh Kraeng Naba. Pratama segera menyongsong Kraeng Naba itu. Pratama dapat membunuh Kraeng Naba sehingga Raja Manila sangat malu. Ia segera melepaskan panah Dhandhali. Panji mengetahui hal itu, ia lalu menangkis panah itu dengan panah Aliparwa sehingga panah Dhadhali hancur.

Raja Siyem memerintahkan hulubalangnya yang bernama Ketut lantir maju ke medan perang. Arya Brajanata lalu menunjuk Andaga untuk menghadapi Ketut lantir. Andaga terkena bisa yang keluar dari mata Ketut lantir sehingga tubuh Andaga melepuh tak berdaya. Kartala ingin menolong sahabatnya itu, tetapi ia juga terkena bisa seperti Andaga. Kudanad pad a ingin menolong Andaga dan Kartala, ia lalu membaca mantera-mantera sehingga keluar bisa dari kedua matanya yang berupa asap merah. Asap itu kemudian bertempuh dengan bisa yang keluar dari mata Ketut lantir sehingga kulit Ketut lantir terperanjat karena ada orang yang dapat mengimbangi kesaktiannya. Kudanadpada mengeluarkan “air penghidupan” dipercikkan ketubuh Andaga dan Kartala sehingga mereka menjadi sembuh. Andaga segera memegang bahu kanan Ketut lantir dan Kartala memegang bahu kiri. Kemudian mereka serentak menyentak sehingga bahu Ketut lantir patah. Tubuhnya lalu dipukuli dengan gada sampai hancur dan mati.

Mengetahui Ketut lantir tewas, Raja Manila lalu memerintahkan Dhanyang Muslik, Kerajanggarga, Ketut Baru Kasah, dari Dhanyang Kotar Paris untuk menyerang Andaga, Kartala, dan Kudanadpada. Arya Brajanata melihat hal itu lalu menyuruh Arya Wukit Sari maju ke medan laga membantu ketiga tamannya itu. Raja Bramakumara pun segera menyuruh Patih Guna Saronta dan Prajalena agar membantu Patih Bramadenta. Demikian juga Raja KIana Surya Raja Bramakumara yang bernama Patih Guna Saronta kembali daripada membantu Patih Bramadenta. Demikian juga Raja KIana Surya Kediri, ia membawa surat dari Panji. Ketika itu Raja Bramakumara Dadwa menyuruh adiknya, Kanaka Wulan, membantu dalam sedang dihadap oleh istri dan para selirnya. Hal itu dapat diketahui peperangan itu.

Di istana Negeri Makasar terjadi peristiwa penting, yaitu utusan pun segera menyuruh Patih Guna Saronta dan Prajalena agar Raja Bramakumara yang bernama Patih Guna Saronta kembali dari Kediri, ia membawa surat dari Panji. Ketika itu Raja Bramakumara Dadwa menyuruh adiknya, Kanaka Wulan, membantu Patih Bramadenta. Demikian juga Raja KIana Surya Kediri, ia membawa surat dari Panji. Ketika itu Raja Bramakumara Dadwa menyuruh adiknya, Kanaka Wulan, membantu dalam sedang dihadap oleh istri dan para selirnya. Hal itu dapat diketahui peperangan itu

Patih Bramadenta menyerang Arya Brajanata dengan gadanya, tetapi Arya Brajanata dapat mengimbanginya sehingga terjadilah pertempuran yang ramai. Pada waktu itu Andaga, Kartala, Kudanadpada, dan Arya Wukir Sari juga tengah sibuk menghadapi lawannya

Ketika tengah terjadi pertempuran itu, Kanaka Wulan melepaskan panah sakti, Bujanggapasa. Seketika itu keluarlah lima ekor ular dan melilit pahlawan-pahlawan yang sedang berperang itu. Bala Makasar sangat senang karena Arya Brajanata, Andaga, Kartala dan Kudandpada tidak berdaya dililit oleh ular sebesar pohon pinang. Mereka lalu beramai-ramai mengroyok kelima orang itu. dia melihat hal itu Panji bermeditasi, ia kemudian melepaskan panah Dhadhali Bariawan mengenai panah Kanaka Wulan sehingga hancur. Seketika itu pahlawan-pahlawan Kediri terbebas dari lilitan ular.

Arya Brajanata kemudian dengan cepat memukul Patih Bramadenta, Patih Arya Bramadenta dengan gada sehingga Patih Bramadenta pingsan. Tetapi, ia selamat karena diselamatkan oleh Patih Guna dan Prajalena. Namun keempat hulubalang seberang, yaitu Dhanyang Muslik, Keranggarga Ketut Batu Kasah, dan Dhanyang Kotar Paris tewas oleh pahlawan-pahlawan Jenggala.

Kanaka Wulan yang terbang di angkasa melepaskan panahnya. Panji yang selalu waspada mengetahui hal itu, ia lalu melepaskan panah, Hru Pawana. Panah itu mengenai Kanaka Wulan sehingga ia jatuh terpelanting. Kanaka Wulan melapor kepada Raja Surya Dadwa dan Raja Surya Dadwa sangat marah. la hendak maju ke medan perang, tetapi Raja Bramakumara melarangnya. Raja Bramakumara kemudian menitahkan patihnya agar segera mengerahkan semua prajuritnya yang berjumlah ratusan ribu orang. Panji pun segera memerintahkan Arya Brajanata dan perwiraperwira lainnya maju ke medan perang, di barisan depan, sedangkan para prajuritnya mengikutinya dari belakang.

Kedua pasukan itu saling menyerang, pasukan dari seberang terdesak dan banyak prajurit dan hulubalangnya yang tewas. Medan pertempuran itu akhirnya berubah menjadi lautan darah. Peperangan telah berlangsung enam hari, tetapi kedua belah pihak belum ada yang kalah. Bila malam mereka beristirahat dan sisanya mereka berperang lagi.

Para raja seberang dan patmanya mengeluarkan kesaktiannya masing-masing. Panah-panah raja seberang keluar bagaikan curahan hujan dari langit. Panah-panah tersebut mengenai prajurit-prajurit jenggala sehingga banyak prajurit yang tewas. Melihat hal itu Panji segera melepaskan panah saktinya. Panah itu lalu bertempuh dengan panah para raja seberang sehingga panah raja seberang itu musnah.

Setelah itu Panji bersamadi, memohon kepada Dewa Yang Agung agar musuhnya segera pergi. Permohonan Panji terkabul, seketika itu datangIah angin topan dan petir bergemuruh di angkasa. Angin topan itu menerjang semua raja seberang dan para prajuritnya. Para raja seberang mengetahui hal itu, mereka lalu membaca mantera-mantera untuk menolak topan itu. Akan tetapi, mantera-mantera itu tidak mempan sehingga para raja Sebrang dan prajuritnya itu jatuh di pesanggrahannya dan banyak yang tewas.

Semusnahnya musuh dari seberang itu, Panji segera kembali ke Kediri diiringkan oleh para prajuritnya. Prabu Lembu Amijaya segera menyambut kedatangan Panji. Mereka kemudian dijamu dengan berbagai macam hidangan dan tari-tarian.

(Naskah Cerita di Tulis ulang dan di Ringkas dari buku Mardiyanto, _Analisis Struktur dan Nilai Budaya dalam Panji Sekar._ Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1995)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *