Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP, mengapresiasi keberadaan Kampung Tangguh Mandiri (KTM) Kampung Glintung Water Streat (GWS) RW 5 Purwantoro, sebab telah mampu menjadi percontohan bagi daerah lain dalam menyiapkan ketahanan pangan, khususnya pada masa pandemi Covid-19.

Kunjungan Rabu (3/6) siang tadi yang didampingi oleh Walikota Malang dan Wakil Walikota Malang serta Sekda dan jajarannya termasuk Kapolresta Malang disambut oleh ketua KTM GWS Ageng Wijaya Kusuma besera warganya tak terkecuali Lurah Purwantoro.

Setelah cuci tangan Muhadjir menengok beberapa titik yang dianggapnya sangat maju dibandingkan saat dulu dia pernah mengunjungi kawasan ini. Seperti tempat pembibitan ikan lele dan mujaer yang memanfaatkan drainase, pembudidayaan tanaman sayur di atas drainase dan lingkungan sekitar, serta tempat isolasi dan pemulasaraan jenazah memanfaatkan rumah kosong.

Terkait pengendalian Covid-19, KTM GWS RW 5 Purwantoro ini dinilai telah siap, seperti rumah isolasi, pemulasaraan dan pemakaman jenazah dengan tim Satgas Covid-19 nya, dan ketangguhan pangannya. “Ini luar biasa, semua bisa termanfaatkan dan saya rasa ini kampung tangguh yang tànggap,” ungkap Mantan Rektor UMM itu.

Yang menarik selain membeli beberapa handycraf daur ulang sampah Muhadjir juga mengujungi gudang lumbung pangan dan stand mlijo gratis bagi warga yang membutuhkan “Ini menarik, situasi seperti ini warga saling membantu sesama dengan sistem barter seperti jaman dulu menjadi modal sosial ketahanan pangan,” Ungkap Mendikbud RI pada periode sebelumnya ini.

“Saya rasa revolusi mental itu ya ini ada di sini dan saya kira ini contoh yang sangat baik. Kalau ada 50 persen saja dari total kelurahan yang ada di Kota Malang seperti Kelurahan Purwantoro, saya rasa Kota Malang bisa jadi contoh kota-kota lainnya untuk membangun lingkungan sehat, bersih, masyarakatnya guyub dan penuh kegotongroyongan. Karena ini kegotongroyongan yang nyata,” ungkap Muhadjir.

“Nanti, saya akan terjunkan tim untuk mempelajari pola kampung tersebut. Kemudian, akan ditularkan secara masif di tempat lainnya,” Terkait New Normal, lanjut Muhadjir, normalnya tetap harus dengan syarat-syarat tertentu, seperti mematuhi protokol kesehatan, karena masih harus hidup bersama Covid-19. “Kalau hanya protokol-protokol dasar seperti memakai masker, cuci tangan, membuat jarak, menghindari kerumunan, itu saja tidak cukup. Tapi harus ada yang spesifik, misalnya kalau Jumatan seperti apa, di restoran seperti apa, itu yang justru harus diperhatikan. Termasuk ketika sekolah sudah mulai masuk,” tandasnya.

Sudah tentu Ageng merasa senang bahwa kampungnya dapat menginspirasi kampung lain dan berbagi pengalaman tentang bagaimana membangkitkan kampung tangguh di masa pandemi covid secara mandiri yang sebenarnya kampung ini merupakan kampung Glintung Water Street kampung wisata berbasis urban farming dan ketahanan pangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *