Menanti Durian Runtuh Di Trenggalek

Kabupaten Trenggalek Jawa Timur merupakan salah satu daerah yang paling banyak menghasilkan buah tanaman hutan. Trenggalek memiliki dua garis lanskap: maritim (dengan laut Prigi dan sekitarnya) dan agraris (dengan hutan dan pertaniannya). Alam Trenggalek, dalam hal ini Watulimo, menyediakan hasil pertanian berupa surga wisata buah-buahan. Salah satu buah yang sangat terkenal dan dinantikan adalah buah durian. Potensi ekonomi dari budidaya durian khas Trenggalek itu digarap menjadi wisata durian. Para pengunjung bisa menikmati durian jatuh pohon di  Desa Sawahan, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Pengunjung diajak untuk berpetualang menyusuri kebun durian yang asri dan nyaman. Satu hal yang ditunggu-tunggu yaitu acara menyantap durian yang runtuh di sekitar pohonnya.setelah menjelajah langsung di hutan durian yang terbesar se Asia atau internatiomnal durio Forestry dan jika dalam masa panen wisatawan berkesempatan untuk memanen dan menikmati di tengah sawah kebun dan hutan durian. Dengan luas lahan mencapai 650 hektar, Hutan Durian Internasional di Desa Sawahan, Trenggalek, Jawa Timur, menjadi  hutan durian terbesar di dunia.

Pengalaman serunya menikmati lezatnya durian jatuh itu hanya bisa didapat di Desa Wisata Durensari yang terletak di Desa Sawahan, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Desa wisata itu terletak kurang lebih tiga kilometer dari lokasi wisata kawasan Pantai Prigi dan Pasir Putih.  Pengunjung yang datang ke kampung durian, akan diajak mengelilingi area perkebunan yang ada di kawasan hutan. Dengan menyusuri jalan setapak, para wisatawan akan dimanjakan dengan suasana hutan yang rindang dan segar.   Saat musim durian tiba, pengunjung bisa melihat secara langsung aneka pohon durian yang sedang berbuah. Petualangan wisata alam itu bakal semakin seru saat pemandu wisata mengajak pengunjung untuk berburu buah durian yang jatuh dari pohon, bersama petani setempat.

Setelah berhasil menemukan durian yang jatuh dari pohon, pengunjung bisa langsung menyantap sepuasnya. Bila hendak membawa pulang durian hasil buruan, pengunjung mesti membayar. Harga durian yang dibandrol di desa wisata itu berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 40.000 per buah, tergantung ukuran buah.  Konon, durian yang baru jatuh dari pohon memiliki cita rasa dan kenimatan yang berbeda, dibanding dengan durian yang dijual di pinggir jalan, yang sebagian besar dipetik ketika masih di pohon. Aneka jenis durian lokal tersedia di kawasan desa wisata ini. Rasa durian asal Trenggalek tidak kalah lezat dibanding durian daerah lain maupun dari luar negeri.  Jenis durian unggulan dari Kabupaten Trenggalek adalah Durian Ripto, sesuai dengan nama sang penemunya yakni Suripto.

Dalam ajang kontes durian yangdi hadiri 50 peserta daeri berbagai daerah tahun lalu yang dilaksanakan didesa wisata Duren Sari Desa Sawahan Kecamatan Watulimo, sekelompok ibu PKK desa setempat juga turut menjajakan panganan maupun souvenir cantik khas desa wisata Duren Sari. Salah satunya adalah olahan buah durian yang dinamakan jenang gendol duren, sejenis minuman yang memiliki citarasa gurih manis yang didalamnya terdapat buah durian dan mutiara berbahan tepung sagu.

Omzet ekonomi dari hasil produksi buah durian di beberapa sentra perkebunan di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, selama Januari hingga awal April tahun lalu ditaksir lebih dari Rp200 miliar. dengan asumsi harga masih Rp20 ribu per kilogram. Produksi durian daerah tahun ini lebih baik dibanding tahun lalu dengan volume mencapai 10 ribu ton per akhir Maret atau awal April dengan volume panen durian yang tercatat di Dispertahutbun Trenggalek mencapai 15.731,4 ton.Jika volume itu dirupiahkan dengan asumsi harga rata-rata Rp20 ribu per kilogram saja, omzet penjualan hasil panen durian bisa mencapai Rp314,628 miliar.

Selain durian, produk holtikultura lain yang tak kalah besar potensi ekonominya di wilayah pesisir selatan Trenggalek, khususnya wilayah Kecamatan Watulimo adalah buah manggis, salak serta pisang. Khusus untuk produk durian, sentra produksi perkebunan terbesar ada di wilayah Kecamatan Watulimo, Munjungan, Kampak, Panggul, Dongko, serta sebagian Bendungan.

Lima daerah terakhir diistilahkan sebagai kawasan penyangga produksi, sementara produksi terbesar masih terkonsentrasi di Kecamatan Watulimo, terutama di kawasan perkebunan dan kehutanan melalui program pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) yang dikembangkan perhutani, Salah satu konsep yang dapat di terapkan untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan adalah CBT community based tourism

Selain berburu durian, itu wisatawan akan belajar mendapat 3B berwisata berpetualang dan belajar. Wisatawan dapat berpetualang ke kebun manggis salak dan sekaligus memetik langsung buah dari pohonnya. Selain itu wisatawan dapat mengolah gula aren pakis the jare jahe rese. Terdapat seni karawitan yang dapat di manfaatkan wisatawan yang ingin belajar  Bagi yang mau bernostalgia dengan permainan tradisional yang biasa dimainkan anak anak bisa di ajak bermain outbond tradisional seperti klacen atau bermain di sungai, egrang, kekehan dan panah-panahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *