Islam di Jawa kaya dengan tradisi. Apapun yang berkaitan dengan hari besar disitu selalu ada perayaan.  Hari Raya Idul Fitri sebagai Hari Besar Islam adalah hari raya terbesar dalam peringatan dan perayaan salah satunya Riyoyo Kupatan.

Rabu, 19/5 masyarakat KBP menggelar perayaan riyoyo kupatan. “Makna lebaran adalah selesai, selesai menjalankan ibadah puasa, maka setelah selesai kita semua wajib meleburkan dosa dosa (leburan) kita dengan saling maaf memaafkan.” Ungkap Ki Demang.

Riyoyo Kupatan sebagai ajaran Sunan Kalijaga sampai saat ini masih lestari terselenggara dimana mana meski telah mengalami penurunan dan pergeseran pelaksanaan di masyarakat. Riyoyo Kupatan adalah salah satu rangkaian dari perayaan lebaran Idul Fitri dimana umumya diselengarakan pada H+7 bulan Syawal Tahun Hijriyah.

Isa Wahyudi nama asli Ki Demang juga mengungkapkan makna filosofi kupatan diambil dari bahasa arab kaffatan dan lidah orang jawa menyebutnya kupatan artinya adalah kesempunaan.  kesempunaan manusia apabila saling maaf-memaafkan, saling berbagi dan memberi serta saling menjalin silaturahmi.

Makna simbolis lain ketupat kenapa memakai janur kuning agar kembali bersinar seperti Nur Muhammad. Ketupat dibuat dengan melilitkan janur satu dengan yang lain dengan maksud terjalin tali silaturahmi serta bersudut empat dan lima yang berati kiblat papat tengah pancer dan memakai beras dan ketan agar badan ini waras dalam ikatan.

Persiapan Riyayan Kupatan di KBP sebenarnya dilakukan satu hari sebelumnya dimana warga bersama sama merangkai ketupat. Pada hari Rabu sore sebelum acara inti dllakukan sebagian warga menabuh gamelan. Acara dimulai dengan tembang mocopat dan di buka dengan Tari Beskalan yang makna filosofinya bahwa Riyayan Kupatan sebagai penanda segeralah dimulai program, kegiatan pelestarian seni budaya kembali seperti jadwal biasanya.

Hadir memberikan sambutan Fitria Noverita Kabid Destinasi Pengembangan Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Malang dengan memberikan apresiasi “kami bangga bahwa KBP satu satunya kampung wisata berbasis budaya yang paling aktif uri uri tradisi budaya karena ini merupakan atraksi wisata budaya”

Acara ini juga dimeriahkan dengan tari beskalan dan tembang macapat yang menjadi ciri khas Kampung Budaya Polowijen serta di tutup dengan acara makan bersama dan halal bihalal oleh seluruh warga KBP.

Tercatat dalam Kalender event Kota Malang 2021, KBP paling banyak menyelenggarakan event dan pemerintah  hadir mendampingi meskipun susananya masih pandemi Covid-19 degan segala keterbatasan agar tetap sesuai dengan protokol kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *