Masa pandemic covid 19 adalah masa paling sulit bagi sektor pariwisata tak terkecuali kampung tematik yang merupakan kampung wisata andalan di Kota Malang. Salah satu kreatifitas yang di bangun beberapa kampung tematik adalah menjadi kampung tangguh covid-19 agar gotong-royong terjaga dan keswadayaan masyarakat berjalan dan tanggap terhadap Covid 19.

Salah satu Kampung Tangguh Mandiri (KTM) dan dapat di tiru adalah Glintung Water Street (GWS) RW 5 Kelurahan Purwantoro Kecamatan Blimbing Kota Malang yang beberapa pekan lalu menjadi juara 1 Lomba Kampung Tangguh Semeru yang di selenggarakan oleh Polresta Malang. KTM GWS yang bulan lalu di resmikan oleh Gubernur jawa Timur Hj. Khofifah Indarparawansa dan ditinjau langsung oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia PMK Prof. Dr. Muhadjir Effendy.

Selasa Sore (14/6) sejumlah 40 kampung tematik yang terdiri dari 20 kampung tematik wisata dan 20 kampung baru tematik rintisan melakukan lawatan ke GWS dalam rangka studi banding tentang pelaksanaan kampung tangguh, penerapan protokol kesehatan dan penanganan pelayanan kunjungan wisata di masa new normal covid 19. 20 kampung baru tematik rintisan merupakan pumping bentukan Badan Keswadayaan Masyarakat di bawah koordinasi Forkot Kotaku Kota Tanpa Kumuh.

Kunjungan ke GWS sengaja di fasilitasi oleh Forkom Pokdarwis Kota Malang dan Forkot Kotaku adalah dalam rangka mempertemukan ide gagasan tetang bagaimana membangun kota dari lorong kampung dengan kemandirian dan keswadayaan. “Pertemuan ini kita gagas untuk menumbuhkan semangat baru bagi warga yang ingin kampungnya ditingkatkan menjadi kampung wisata yang siap dikunjungi untuk wisata edukasi”. Tandas Isa Wahyudi /Ki Demang Ketua Forkom Pokdarwis Kota Malang.

“Munculnya rintisan kampung tematik baru ini murni keswadayaan masyarakat dan ingin berkolaborasi dan belajar bersama tentang pengelolaan kampung tematik”. Kata Arief Prasetyo Ketua Forkot Kotaku Kota Malang yang nengantakan para pegiat kampung berkunjung ke GWS. Hal ini di sambut baik oleh Ki Demang yang merupakan penggagas Kampung Budaya Polowijen. “ayo monggo kita maju bersama sama dan siap menjadi kampung merdeka belajar, kampung tempat penelitian dan pengabdian masyarakat, kampung pengembangan wisata dan ekonomi kreatif bagi PTN dan PTS di Malang”.

Acara santai ramah tamah dengan kenalan potensi masing-masing kampung itu tentu diawali dengan pengukuran suhu tubuh, cuci tangan dan penyemprotan di bilik dis infektan. Pengujung dari perwakilan 40 kampung tematik ini mengenakan masker dan disambut dengan ramah oleh pengurus Pokdawis GWS. Setelah acara selesai, semua pengunjung di ajak meninjau lokasi dipandu oleh ketua Pokdarwis Ageng Wijayakusuma meninjau budidaya terong, lombok, lele dan tomat secara hidroponik yang biasa disebut Telolet.

“Kampung ini mengusung konsep urban farming mengkolaborasikan perikanan dan pertanian di tengah kota” Ungkap Ageng yangjugamerupakan ketua RW 5 Kelurahan Purwodadi. kampung ini berlokasi di Jalan Letjen S Parman Gang 1 Kota Malang ini dulunya merupakan kapung yang sering banjir dan kumuh dan padat penduduk. Kini mampu disulap menjadi kampung wisata yang ramai di kunjungi untuk studi banding dari berbagai daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *