“PERTARUNGAN PASUKAN CORONA DENGAN CINTA”

OLEH : PONI PONIMIN, MALANG. JAWA TIMUR

KONSEP KARYA

“Manusia sebagai penghuni bumi sedang gonjang-ganjing, cemas, panik, karena ulah segerombolan pasukan Corona. kecemasan tersebut bisa saja karena ulah manusia itu sendiri, sehingga pasukan Corona itu ada dan berada untuk berbuat kekacauan. Atau mungkin ini merupakan jalan Sang Maha Penguasa pengatur jagat semesta, agar manusia berkehidupan kembali ke esensi sebagai manusia. Yakni untuk saling mencintai dan dicintai.

Bisa pula pasukan grombolan Corona menjadi bagian dari representasi ion negatif dalam kehidupan kita. Sehingga semakin menenggelamkan/merusak ion positif kita. Sehingga tumbuh sikap serakah, hidup menjadi tidak saling kemanusiaan. Atau bisa juga sebagai penyeimbang aspek positif dalam diri kita, agar terus tumbuh ke penjernihan sebagai manusia.

Ketika Pasukan gerombolan Corona adalah ion negatif, dan menguasai diri manusia, maka dalam diri manusia akan muncul nafsu untuk menguasai yang lain di sekelilingnya. Sehingga dalam kehidupan manusia akan terjadi pertarungan (kepanikan dan kemarahan, jengkel, cuek, dan serakah): misalnya hidup tidak peduli lingkungan. Yakni pada situasi/ kondisi wabah Corona manusia mengedepankan sikap egois: (tidak mau stay at home, keluar rumah berkendara secara bebas, tidak mau bermasker, berkelai dengan petugas di lapangan, dan kekacauan lainnya). Sikap ini sama halnya hidup yang terkuasai pasukan gerombolan Corona. Yakni hidup untuk mencelakakan kehidupan diri sendiri atau manusia yang lain.

Sifat pasukan gerombolan Corona yang membuat celaka manusia yang lain, memang sulit untuk dimusnahkan, akan tetapi bisa dilemahkan. Yakni dengan dengan menumbuhkan pasukan kasih sayang (cinta) dari dalam diri manusia itu sendiri. Sikap hidup manusia yang mau mengalahkan nafsu EGOis.

Kemenangan bertarung dengan pasukan gerombolan Corona dengan cinta adalah kemenangan esensi manusia menjadi manusia.
Kita berkehidupan semestinya adalah merepresentasikan Sang Dewa Surya yang selalu menyinari, juga merepresentasikan Dewa Wisnu yang selalu menghidupi. Juga merepresentasikan Sang Dewa Kresna yang bersenjatakan “KEMBANG WIJAYA KUSUMA” (bunga sakti kehidupan), yakni bunga untuk menghidupkan kehidupan.

Jadi dalam situasi seperti ini Sang Dewa Kresna bertarung di medan perang melawan pasukan Corona tidak menggunakan senjata busur bermata panah Cakra (anak panah yang berujung kematian) ketika bertarung demedan laga, tetapi menggunakan senjata panah bermata KEMBANG WIJAYA KUSUMA (busur panah bermata cinta / kasih sayang untuk menghidupkan kehidupan).

Dalam situasi seperti ini kita jangan larut meliarkan sifat angkara murka, yakni sifat yang dimiliki Sang Kala, seperti halnya sifat pasukan gerombolan Corona, yakni dengan sifat nafsu amarah, apatis, egoistis untuk menguasai yang lain. Karya seni instalasi berbentuk patung keramik figuratif ini merepresentasikan (mengekspresikan) pertarungan ion negatif (visual bentuk pasukan gerombolan Corona dikomandani Raja Corona), bertarung dengan pasukan ion positif yang ada dalam diri manusia yang, yang divisualkan melalui bentuk patung keramik instalasi Sang Dewa Kresna bersenjatakan busur panah bermata KEMBANG WIJAYA KUSUMA (bunga kehidupan/bunga kasih sayang). Karya dibuat dari tanah liat lokal Malang dengan teknik manual pijitan tangan langsung”.

Spesifikasi karya keramik instalasi :
Material tanah liat stoneware dicampur tanah liat eartheneware . Ukuran; Tinggi: 2,2 meter, lebar : 3 meter, lebar: 3 meter
Tahun pembuatan: Mei-Juni 2020

 

Pameran seni rupa ini bertajuk solidaritas lawan corona oleh DIRJEN KEBUDAKYAAN – KEMDIKBUD 2020. Telah dibuka DIRJEN KEBUDAYAAN hari jumat satu minggu yang lalu. Bersyukur kepada Gusti Alloh Karyaku ikut terpilih dalam 75 karya seniman se Nusantara. Dari peserta berjumlah 817 yang diseleksi.

Terima kasaih kepada para kurator dan panitiya penyelenggara. Adapun karya dan konsep karyaku sbb. Serta pameran Solidaritas lawan corona juga dapat diakses di link youtube  dibawah ini.

Salam Corona pasti Musnah.
Poni Ponimin, Dosen Seni dan Desain F. Sastra UM. Keramikus Batu Malang Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *