A. Varian Penggunaaan Kata “Among”

Dalam bahasa Jawa Baru terdapat kata “among” disamping kata “momong” dan “ngemong”. Kata “among” secara harafiah berati memberi contoh. Kata “momong” mengandung arti merawat, dan kata “ngemong” menunjuk pada :proses untuk mengamati. Ketiga istilah itu berkenaan dengan : pola asuh anak. Selain itu, secara keseluruhan istilah ini berkenaan dengan kegiatan merawat anak dengan kasih kasih sayang, tulus, dengan memberi contoh baik pada anak dan mengawasi seprti mengamati setiap perilaku anak.

Penggunaan kata “among” tak hanya dalam hal perawatan, pengawasan dan pengasuhan anak, namun dipergunakan pula dalam konteks religi. Kata repetitif “among-among” misalnya dipakai untuk menyebut persembahan sesaji (offering) dalam memperingati sepasar (lima hari) pada kelahiran anak. Selain itu ritus among-among diselenggarakan secara periodik setiap hari kelahiran anak (weton) menurut perhitungan kombinasi hari pasaran (pancawara, kesatuan hari sebanyak lima hari) dan kesatuan hari yang terdiri atas tujuh hari (saptawara), yang berarti setiap 35 hari (5 X 7). Pada etnik Jawa sub-etnik Mataraman, upacara wetonan diistilahi dengan “slametan jangkung kian”. Tradisi among-among atau jangkingkikan telah dilaksanakan generatif, turun-temurun semenjak nenek moyang dan di beberapa tempat tradisinya belanjut hingga kini.

Hampir serupa dengan among-among pada hari se pasaran bayi dan ritus wetonan itu,o terdapat sesajian namun ditujukan secara khusus untuk air (banyu), yang dinamai “among banyu”. Ada pula penggunaan kata “among” dalam konteks religi, yaitu “among tuwuh”. Selamatan ini acap dilamukan sebagai sarana mengemban sejarah keluarga. Kata ” among” berati mengemban, dan kata “tuwuh” artinys tumbuh atau berkembang. Ritus ini dilaksanakan dalam rangkaian prosesi pernikahan , dengan harapan akan lahir generasi atau keturunan yang dapat menurunkan (brayut) anggota keluarga besar sebagai sebuah dinasti dalam keluarga. Tergambar pada dua sebutan terakhir, kata “among” acap pula diikuti dengan kata lain menjadi kata gabung yang memiliki arti tertentu. Misalnya, sebutan “among roso”, yang bermakna nenghargai, menghormati, menemani atau bersama. Among roso dengan demikian adalah mengelola perasaan, baik diri sendiri atau terhadap orang lain, sehingga hasilkan perasaan saling menghargai dan menghormati, atau timbul rasa kasih sayang untuk membentuk saling pemahaman dan pengertian, bekerja sama mencapai tujuan yang lebih besar bersama-sama. Dalam sikap among roso itu, perbedaan pendapat dilihat sebagai hal yang positif, bukan sebagai dikotomi, tetapi dicarikan titik temu dan dikembangkan menjadi sesuatu hal atau kebijakan yang bermanfaat.

Ada pula kata gabung “among jiwo”, yang secara harafiah berarti : di antara jiwo, atau dapat pula diartikan sebagai : memelihara suasana batin (jiwa) yang baik Terdapat juga kata gabung “among tamu”, yang menunjuk kepaada mereka yang bertugas untuk menyambut, mengantar sekaligus “ngemong”, “ngangon” , mengajak ngobrol para tamu undangan. Mereka biasanya menyebar berbaur dengan tamu. Kata gabung lainnya adalah “among mitro”, yang bermakna pemeliharaan hubungan persahabatan. Tertu masih banyak lagi kata gabung lainnya yang memiliki unsur kata “among”, seperti ttergambar pada nama ” Syeh Amongraga”, seorang tokoh yang lelakunya dipaparkan rinci di dalam “Serat Centini”. Kata gabung lain yang hendaj ditelaah berikut adalah “among tani”.

B. Makna Sebutan “Among Tani”

Kantor Terpadu (Block Office) di Kota Batu diberi nama unik, yang tak biasa, yakni “Among Tani”. Istilah dalam bahas Jawa ini terdiri atas kata “among” yang berati pemeliharaan, perawatan pengusuhan, pelayanan. Adapun istilah “tani” menunjuk pada pembudayaan tanaman atau pencaharian agraris, yang untuk daerah Batu merupakan pilar ekonomi utama dan terawal. Dalam konteks religi, among tani bisa juga berkenaan dengan ritus petrsembahan sesajian untuk mendapatkan keberkahan pertanian yang dibudayakan oleh para petani. Nama “Among Tani” bagi Block Office itu tepat dan kontekstual bagi Kota Batu.

Nama “Among Tani” digunakan pula oleh suatu yayasan di Kota Batu, yang pada 8-8-2019 lalu dilaunching di Griya Thanibala dengan nama “Among Tani Foundation”. Memang, perlu ada Mitra dan mediator antara Pemerintah Kota Batu, msyarakat petani maupun pihak-pihak luar yang berelasi dengan Pemerintah dan masyarakat Batu, yang dimitraperani oleh wadah aktifitas bersama sebagaumana perkumpulan Among Tani ini. Pertanian di Kota pegunungan Batu tidak musti hanya dihadirkan ansich pertanian, namun perlu pula di elaborasi ke arah wisata pertanian, usaha kecil-menengah berbasis bertanian, dan tentu pelestarian-pengembangan eko-sosio-kultural agraris yang terintegrasi. Formulasi ke arah itu tepat dimitraperani oleh Among Tani Foundation.

Kata “tani” di Jawa bukan hanya digunakan buat menyebut pencaharian agraris. Terhitung sejak era pemerintahan kerajaan Kadiri (medio abad XII hingga perempat pertama abad XIII), sebutan “thani” dipergnakan pula untuk menamai desa, yang di abad-abad sebelumnya disebut dengan istilah Sanskrit “wanua, wanwa”. Sebagai satuan wilayah administrasi pemerintahan, lebih kecil di bawahnya terdapat “anak thani”, yakni semacam dusun atau dukuh menurut sebutan Jawa Baru. Unsur sebutan ini juga dipakai untuk menamai areal permukiman para petani, yang konon dulu disebut ” tahun, ketauan, pesanan”. Bahkan, di lingkungan masyarakat etnik Madura (baik yang ada di pulau Madura ataupun di daerah rantau “Pendalungan”), sekumpulan rumah tinggalnya diistilahi dengan ” tangan laeng”, dimana kaya jadian “tangan” terbentuk dari kata dasar “tani” dan akhiran “an”.

C. Basis Ekonomi dan Sosio-Kultural Pedesaan

Bagi desa-desa di Jawa yang tidak berada pada daerah pesisiran, pertanian adalah basis atau pilar ekonominya Pencaharian agraris di daerah demikian relevan dengan konteks ekologisnya, namun telah dibudidayakan sedari amat lama, turun temurun.Oleh sebab itu, pertanian yang telah berurat akar di masyarakatnya dan telah mengisi relung-relung budayanya menjadi tradisi Sosio-Kultural di pedesaan-pedesaan Jawa. Oleh karena itu beralasan bila konon desa dinamai dengan “thani”, permukiman petani dinamai “petanen” dan kompleks rumah tinggalnya pun disebut “tanean”.

Tergambar bahwasanya sebagai suatu upaya pengembangbiakan atau pembudiadayaan aneka tanaman dan hewan, budidaya tanaman dan usaha lain yang dilakukan petani merupakan jenis pekerjaan yang membutuhkan upaya yang sungguh-sungguh untuk melihara dan merawat tanaman dan hewan, sebagaimana hanya ibu yang mengasuh buah hatinya. Untuk itulah maka ikhtiar “among” dalam bidang pertanian — yang dinamai “among tani” dibutuhkan di masyarakat dan pada serah pertanian.

Demikian tulisan ringkas mengenai konsep dan makna kata “among” di dalam konteks sebutan “among tani”. Semoga memberi secercah sinar pencerah. Nuwun

Penulis : M. Dwi Cahyono

Semawis, 13-14 Agustus 2019
Patembayan CITRALRKHA

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *