Oleh : Ki Demang
Penggagas Kampung Budaya Polowijen

Empat dewa dari kayangan turun ke bumi dan masing-masing tinggal di empat kerajaan. Mereka masing•masing memiliki sebutan, yaitu Ratu Kuripan memerintah di Kerajaan Kuripan, Ratu Daha memerintah di Kerajaan Daha, Ratu Gagelang memerintah di Gagelang. dan Ratu Biko Gendasari, bukan raja, bertempat tinggal di Gunung Wilis. Ratu Daha mempunyai seorang permaisuri dan dua gundik, Paduka Liku dan Maha Dewi , serta dua putri. Putri pertama yang lahir dari permaisuri bernama Galuh Candra Kirana yang tidak lain adalah Dewi Sekartaji dan putri kedua yang lahir dari gundik Paduka Liku bernama Galuh Ajeng. Kedua putri itu hidup bersama Ratu Daha di istana . Kedua putri itu berparas cantik, tetapi memiliki sifat sangat berbeda.

Dewi Sekartaji sangat cantik, berbudi luhur serta baik hati, sedangkan Galuh Ajeng juga cantik, tetapi selalu jahat kepada orang lain . Galuh Ajeng selalu iri hati kepada kakaknya, bahkan ia sering menghasut sang Ratu, ayah mereka, sehingga Dewi Sekartaji sering dimarahi. Misalnya , pada waktu penangkapan burung pipit. Candra Kirana yang berhasil mendapatkannya, tetapi Galuh Ajeng marah dan mengadu kepada sang Ratu. Candra Kirana dimarahi. Kemarahan Ratu sering disulut karena iri hati Paduka Liku, sang gundik, kepada permaisuri. Sayangnya, sang Ratu telah didukuni sehingga ia lebih menyukai Paduka Liku. Akibatnya, Dewi Sekartaji dan Permaisuri sering mendapat marah.

Oleh karena Candra Kirana cantik secara fisik dan batin, Ratu Kuripan meminang Dewi Sekartaji untuk putranya, Raden Inu Kertapati yang tidak lain adalah Panji Asmoro Bangun. Galuh Ajeng menangis tak henti-hentinya melihat pinangan Raja Kuripan jatuh pada kakaknya. Paduka Liku turut sakit hati melihat kegembiraan Dewi Sekartaji dan permaisuri. Ia lalu membuat tapai dan diberinya racun kemudian diberikan pada sang permaisuri. Setelah makan jamuan itu, sang permaisuri muntah-muntah lalu meninggal. Dengan begitu kedudukan permaisuri diambil alih oleh Paduka Liku. Dewi Sekartaji sangat sedih akan kematian ibunya. Melihat kesedihan anak tirinya, Paduka Liku senang sebab dialah yang akan menggantikan kedudukan Permaisuri.

Untuk mempengaruhi Ratu Daha, Baginda Sang Nala, Paduka Liku memakai aji-ajian pemberia dari seorang dukun agar Ratu selalu sayang padanya dan melupakan putrinya . Aji-ajian itu mujarab. Sang Ratu terlena oleh ajian pemberian Paduka Liku sehingga Candra Kirana dibenci ayahnya sendiri.

Suatu hari Inu Kertapali mengirimkan dua boneka kepada Galuh Ajeng dan Dewi Sekartaji. Kedua boneka itu terdiri atas boneka kencana perak yang dibungkus kain Sutra dan boneka emas yang dibungkus kain buruk . Galuh Ajeng diminta oleh Panji Asmoro Bangun untuk memilih lebih dahulu hadiah ilu. Ia memilih hadiah berbungkus kain sutra dan Dewi Sekartaji memperoleh sisanya. Setelah melihat Candra Kirana mendapat hadiah lebih baik, Galuh Ajeng marah dan meminta boneka emas milik Dewi Sekartaji. Gadis itu tidak memberikannya kepada Galuh Ajeng karena sangat sayang. Mengetahui hal itu, Ratu Daha marah dan memaki Dewi Sekartaji dan Paduka Liku . Terlalu marah kepada Dewi Sekartaji karena tidak mau menuruti perintahnya , Ratu Daha memotong rambul anak gadisnya. Dewi Sekartaji sangat sakit hati kepada ayahnya. Ia tidak sanggup lagi menghadapi kekejaman ketiga orang itu dan Ia sakit hati . Besoknya, bersama dengan inang pengasuhnya , Maha Dewi, dan dua dayangnya Ken Sanggil dan Ken Bayan, Dewi Sekartaji keluar dari istana mengembara.

Dalam setengah perjalanan, sampailah mereka di hutan yang sangat lebat, yang letaknya di antara Kerajaan Daha dan Kerajaan Kuripan . Mereka berhenti di tempat itu dan membangun kerajaan kecil. Mereka menebangi hutan dan membangun istana. Setelah istana selesai dibangun, Dewi Sekartaji menjadi raja di tempat itu. Ia berniat merebut Kuripan. Untuk keperluan itu, ia dan pengikutnya menyamar sebagai lelaki. Dewi Sekartaji mengubah namanya menjadi Panji Semirang Asmara Rupa, Ken Bayan menjadi Kuda Perwira , dan Ken Sangit menjadi Kuda Peranca .

Penyamaran mereka menjadi lelaki sangat sempurna. Mereka menjadi ksatria dan berhasil mencari pengikut. Orang-orang Kuripan yang melewati daerahnya diserang kemudian dijadikan bala tentara. Karena kekesatriaannya, semua pengikutnya tunduk kepadanya. Bila malam tiba , saat akan tidur, ia berganti rupa menjadi Dewi Sekartaji. Pada saat itulah muncul perasaan sedih dan benci karena ditinggal ibunya juga perasaan benci kepada ayahnya. Saat itu ia juga rindu kepada kekasihnya. Inu Kenapati, yang saat itu telah dijodohkan dengan Galuh Ajeng sebagai ganti Candra Kirana . Pada saat sepeti itulah, untuk mengurangi kesedihan. ia akan menimang-nimang boneka kencananya.

Jika siang tiba, Dewi Sekartaji kembali menjadi Panji Semirang yang gagah perkasa. Ia berhasil menguasai negara Mentawan. Raja Mentawan kalah sebelum berperang karena mendengar kesaktian Paji Semirang. Selain itu, Raja Mentawan juga tidak menginginkan rakyatnya menderita karena peperangan. Melihat kegagahan Panj i Semirang , Putri Mentawan jatuh cinta , tetapi Panji Semirang tidak menanggapinya .

Suatu hari ia mendengar kabar bahwa utusan Kuripan akan meminang Dewi Sekartaji ke Daha. Utusan itu tentu saja melewati daerah kekuasaannya . Harta benda pinangan yang dibawa utusan Kuripan dan seluruh anak buahnya dirampas Panji Semirang . Berita mengenai hal itu sampai ke Kuripan. Panji Asmoro Bangun bertolak ke daerah kekuasaan Panji Semirang dengan maksud akan merebut kembali hartanya yang dirampas. Peperangan hampir saja terjadi karena pada saat itu Inu Kenapati tidak mengenali lagi Dewi Sekartaji , lawannya. Akan tetapi, peperangan dibatalkan karena Panji Semirang merasa lawannya tidak seimbang. Mereka akhirnya berteman. Dalam pertemuan itu, Panji Asmoro Bangun merasa ada keanehan pada diri Panji Semirang. tetapi tidak dapat menjawab apa keanehan itu. Sebagai tanda perpisahan, harta rampasan Kuripan dikembalikan oleh Panji Semirang.

Panji Asmoro Bangun melanjutkan perjalanan ke Kuripan . Ia kecewa sampai di Daha karena yang dipinangnya , Dewi Sekartaji , sudah pergi. Paduka Liku dan Ratu Daha menipunya dengan mendandani Galuh Ajeng seperti Candra Kirana. Setelah pertunangan, Galuh Ajeng ditinggalkannya dan ia masih terus terkenang pada Panji Semirang. Akhirnya, ia dapat menerka bahwa Panji Semirang yang menjadi temannya itu adalah samaran dari Dewi Sekartaji. Ia pun kembali ke Mentawan untuk menyusulnya. Sayangnya, setelah perpisahan itu, Dewi Sekartaji langsung pergi ke Gunung Wilis. Ia sedih karena Panji Asmoro Bangun akan menikah dengan Galuh Ajeng. Panji Asmoro Bangun kecewa tidak menemukan Dewi Sekartaji di Mentawan dan ia berusaha mencarinya. Ia kemudian mencarinya dan Galuh Ajeng ditinggalkannya. Galuh Ajeng bertingkah seperti orang gila ketika tahu Inu menginggalkannya.

Pengembaraan Panji Asmoro Bangun mencari Panji Semirang dilakukan ke beberapa tempat, tetapi belum juga ditemukan. Dalam pengembaraan itu, ia menyamar menjadi Raden Panji Jayeng Kusuma. Dalam perjalanan itu, ia menaklukan kerajaan Sedayu. Di situ Panji Asmoro Bangun mengawini Putri Sedayu, Galuh Nawang Cendera. Putri itu diajalnya mengembara untuk mencari Dewi Sekartaji. Dalam perjalanan Panji Asmoro Bangun menaklukkan Raja Jaga Raya. Setelah itu, ia mencari kembali kekasihnya. Ia sampai di Gegelang dan bersahabat dengan Raja di tempat itu. Bahkan, ia menikah dengan putri di situ dan diangkatlah Panji Asmoro Bangun menjadi anak Raja Gegelang. Pada suatu hari, Panji Semirang sudah sampai di Gunung Wilis bertemu dengan Biku Gendasari, bibinya.

Di situ mereka membuka samaran dan kembali menjadi perempuan. Namun, rasa rindunya pada Inu Ketapati tidak dapat ditahannya. Ia selalu bersedih hati. Melihat nasib kemenakannya, Biku Gendasari tidak tega. la menyarankan agar Dewi Sekartaji menyamar menjadi pemain gambuh. Penyamaran kali ini ditempuh agar ia mendapat keamanan di perjalanan. Dalam perjalanan ia manggung di pasar dan penontonnya sangat banyak. Berita itu sampai ke telinga Raja Gegelang dan Panji Asmoro Bangun. Para pemain gambuh itu dipanggil bermain di istana. Saat itu Panji Asmoro Bangun kembali berteman dengan pemain gambuh yang sebenarnya adalah Dewi Sekartaji. Akan tetapi, pada pertemuan itu, Panji Asmoro Bangun agak curiga.

Saat malam tiba, ia mengintip segala gerak gerik pemain gambuh itu. Tidak lama kemudian pemain gambuh itu membuka samarannya, mengambil boneka kencananya, dan meninabobokkan. Pada saat itu juga Panji Asmoro Bangun tidak tahan lagi menahan rindunya . Ia langsung memeluk kekasihnya itu. Dewi Sekartaji mengelak tidak mau karena Inu Kenapati milik Galuh Ajeng. Panji Asmoro Bangun menjelaskan bahwa ia sudah menceraikan Galuh Ajeng.

Setelah mendengar penjelasan Panji Asmoro Bangun , barulah GaIuh Candra Kirana menerima lagi cinta Panji Asmoro Bangun . Mereka bermesraan selama di Gegelang . Setelah puas melepaskan rasa rindu mereka kemudian Panji Asmoro Bangun mengajak Dewi Sekartaji pulang ke Daha . Namun, Dewi Sekartaji tidak mau. Ia merasa sakit hati kepada tiga orang di Daha, yaitu ayahnya, Paduka Liku , dan Galuh Ajeng. Panji Asmoro Bangun memahami perasaan kekasihnya. Akhirnya, mereka pulang ke Kuripan.

Di Kuripan mereka dinobatkan menjadi Raja dan Permaisuri Kuripan karena Ratu Kuripan, ayah Panji Asmoro Bangun, akan menjadi begawan di Gunung Wilis. Berita gembira itu disampaikan kepada Raja Gegelang dan Ratu Daha. Ratu Daha pun menjenguk putrinya dan menyesali kesalahannya. Ia tidak mempedulikan lagi gundiknya, Paduka Liku. Paduka Liku marah dan berusaha untuk mendukuni lagi Ratu Daha. Untuk itu, ia menyuruh saudaranya menemui dukun yang dulu. Namun, di tengah jalan saudaranya ia meninggaI disambar petir. Mendengar berita itu, Paduka Liku sangat sedih dan putus asa. Ditambah lagi, ia sudah tidak dipedulikan Ratu Daha lagi . Lama kelamaan ia menderita sakit dan akhirnya meninggal dunia.

(Naskah Cerita Panji diresum dari buku Mu’jizah, Nikmah Sunardjo, Erli Yetti, 2003, Citra Wanita Dalam Hikayat Panji Melayu, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *