Kampung tematik Dukung Industri Kreatif Di Kota Malang

Oleh: Dr. Ana Sopanah,SE.,M.Si.,Ak.,CA.,CMA.,CIBA.,CERA.,CBV

Indonesia sebagai negara berkembang terus berupaya meningkatkan mutu perekonomiannya agar terhindar dari bahaya merosotnya ekonomi. Ekonomi kreatif dianggap berpotensi besar dalam memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan, menciptakan iklim bisnis yang positif, membangun citra dan identitas bangsa, mengembangkan ekonomi berbasis kepada sumber daya yang terbarukan, serta menciptakan inovasi dan kreativitas yang merupakan keunggulan kompetitif suatu bangsa. Isu tentang ekonomi kreatif menjadi semakin senter diperbincangkan setelah pemerintah mencanangkan Inspres No 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif.

Dalam Inpres tersebut dijelaskan bahwa terdapat 14 pilar dari ekonomi Kreatif yaitu periklanan, arsitektur, seni, kerajinan, desain, fashion, film, musik, seni pertunjukkan, penerbitan, penelitian dan pengembangan (R&D), perangkat lunak, mainan dan permainan, televisi dan radio, dan permainan video (lihat gambar 2).

Di dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2015, produk-produk ekonomi kreatif diklasifikasikan kedalam 16 subsektor yang oleh Badan Pusat Statistik (BPS) kemudian dirinci kedalam 206 Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 5 digit. Rincian keenam belas subsektor ekonomi kreatif berturut-turut sesuai dengan urutan KBLI adalah sebagai berikut:; Arsitektur, Musik, Desain Interior, Fesyen, Desain Komunikasi Visual, Aplikasi dan Game Developer, Desain Produk, Penerbitan05 Film, Animasi, dan Video, Periklanan, Fotografi, Televisi dan Radio, Kriya, Seni Pertunjukan, Kuliner, Seni Rupa.

Tak terkecuali di Kota Malang. Kota yang dikenal dengan julukan Kota Pendidikan Kota Pariwisata, dan Kota industri yang berkesinambungan dengan tagline ‘Beautiful Malang’.sangat “wellcome” dengan isu ekonomi kreatif. Kota ini bahkan telah mencanangkan dirinya sebagai Kota Kreatif dengan digelarnya dua even besar pada tahun 2016. Pertama Indonesia Creative Cities Conference (ICCC) ke-2 yang dilaksanakan pada tanggal 1-5 April 2016 yang dihadiri oleh berbagai negara. Kedua Festival Mbois yang dilaksanakan pada tanggal 3 November 2016 dan berakhir tanggal 10 Desember 2016. Event besar bagi pegiat ekonomi kreatif  dipusatkan di tiga tempat berbeda yaitu Malang Digital Lounge, MX Mall, dan Graha Cakrawala.

Dalam kerangka mendukung Kota Kreatif Pemerintah Kota Malang menciptakan Kampung Tematik di hampir setiap wilayah. Beberapa Kampung Tematik yang tercipta karena ide-ide dari masyarakat sekarang menjadi destinasi wisata dan mendatangkan.

Kampung Glintung Go Green (3G)

Kampung 3G  berada di RW 23 Kelurahan Glintung di inisiasi oleh Ketua RW, Ir. H. Bambang Irianto diawali dengan kegiatan sederhana, yakni penghijauan lingkungan yang dimulai sejak Februari 2012.

Gerakan ini dinilai sejalan dengan program Pemerintah Kota Malang dalam melakukan gerakan penghijauan, Malang Ijo Royo-royo. Dalam pelaksanaannya disepakati, warga sepakat memiliki tanaman hijau di setiap rumah sebagai syarat untuk memperoleh layanan administrasi kependudukan. Khusus bagi mereka yang tidak mampu membeli tanaman, maka pihak RW tak segan memberikan bantuan berupa tanaman yang wajib dirawat yang bersangkutan.

Kampung yang tadinya kumuh dengan masalah sosial-ekonominya, menjadi kampung yang asri, nyaman dan tentram. Kini kampung mereka telah memiliki magnet sebagai objek wisata edukatif bagi masyarakat sekitar maupun dari luar Malang. Kunjungan dari berbagai kota untuk ikut belajar mengembangkan budaya Go Green seolah menjadi sebuah rutinitas hampir setiap pekan.

Kampung Wisata Warna Warni Jodipan (KWJ)

Kampung Wisata Warna Warni Jodipan terletak di Rt. 06, 07, dan 09, Rw 02, Kelurahan Jodipan adalah kampung yang digagas oleh mahasiswa jurusan Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diketuai Nabila Firdausiyah.

Mereka menggandeng program corporate social responsibilities perusahaan cat untuk mewujudkan kampung tersebt. KWJ diresmikan langsung oleh Walikota Malang pada tanggal 4 September 2016. Kampung Warna Warni adalah sederetan rumah warga di tepi sungai Brantas yang menampilkan dinding aneka warna yang tidak monoton.

Perpaduan warna dan penataan berbagai spot foto sangat menarik sehingga KWJ saat ini tidak pernah sepi dari pengunjung.Apabila sejak ada Jembatan Kaca sepanjang 25 meter menjadi penghubung antara KWJ dengan Kampung 3D di Kelurahan Kestarian kampung ini tak pernah sepi dari pengunjung.

Kampung Wisata 3 Dimensi (3D)

Kampung Tridi berada di RT 1 – 4, RW 12, Kelurahan Kesatrian bersebelahan dengan KWJ. Digagas oleh Eddy Supriyanto. Rumah-rumah di Kampung Tridi juga di cat warna-warni, tetapi keunikan utamanya bukan disitu, melainkan pada gambar-gambar mural 3 dimensi (tampak nyata) yang digambar pada tembok-tembok rumah warga yang mencapai 80an gambar.

Gambar-gambar yang tampak nyata inilah yang menjadi spot selfie keren bagi warga kota Malang maupun pengunjung dari daerah-daerah lainnya. Mulai dari pintu masuk gang perkampungan, langsung melihat beberapa gambar 3 dimensi yang menarik seperti gorilla yang sedang selfie, air terjun yang seakan tumpah ke jalanan, mulut seseorang yang sedang terbuka lebar dimana kita bisa foto seperti akan dimakan serta ikan hiu yang siap menerkam anda.

Kampung Budaya Polowijen (KBP)

Kampung Budaya Polowijen terletak di Rt 03 RW 02 Kelurahan Polowijen merupakan salah satu Kampung Budaya yang di gagas oleh warga setempat bernama Isa Wahyudi alias Ki Demang.

Kampung ini akan dijadikan sebagai pusat kesenian, budaya dan edukasi. KBP memiliki sisi historis yang kuat, utamanya dalam hal Tari Topeng karena Mbah Reni sebagai tokoh topeng malang dimakamkan disekityar KBP. Kampung ini diresmikan oleh Walikota Malang pada tanggal 2 April 2017.

Selain untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya setempat, Kampung Budaya sendiri ditujukan untuk membangkitkan ekonomi kreatif masyarakatnya melalui pembuatan batik dan topeng, serta berbagai pertunjukan tarian malangan.

Kampung Biru Arema

Satu lagi kampung tematik yang tidak jauh dengan KWJ dan K 3D adalah Kampung Biru Arema yang telah diresmikan oleh Walikota Malang tanggal 6 Febuari 2018. Sesuai temanya cat biru mendominasi dinding dan atap rumah warga. Kehadiran destinasi wisata kekinian sekaligus menjadi ikon wisata baru sekaligus membuka peluang usaha bagi para UMKM untuk memasarkan hasil kreatifitas produknya kepada para pengunjung. Kampung ini ingin mengangkat Kota Malang yang memiliki kebanggaan pada klub sepakbolanya yaitu Arema.

Selain 5 kampung tematik yang dijelaskan di atas masih banyak kampung tematik lainnya yang mendukung industri kreatif di Kota Malang. Industri Kreatif adalah indutri yang menciptakan nilai tambah yang berbasis ide, lahir dari kreatifitas sumber daya manusia (orang kreatif) dan berbasis ilmu pengetahuan, termasuk warisan budaya dan teknologi. Visinya adalah meningkatkan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) dan bahan baku untuk pengembangan ekonomi kreatif, meningkatkan pertumbuhan dan saya saing industri kratif, dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pengembangan ekonomi kreatif yang berdaya saing global.

Kelima Destinasi Wisata Kampung Tematik tersebut berbasis pada ide-ide kreatif menjadikan Kota Malang sebagai Kota Industri Kreatif yang berdampak pada pemberdayaan ekonomi masyarakat Kota Malang secara umum. Munculnya berbagai Kampung Tematik di dukung oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, dibawah kepemimpinan Wali Kota Malang Moch Anton membawa banyak penghargaan untuk Kota Malang. Setidaknya ada 37 Penghargaan selama tahun 2017. Diantaranya Penghargaan sebagai Kepala Daerah Enterpreneur pada 8 th Annual KIN Asean, Penghargaan dari IAA sebagai Kota Terbaik  versi IAA dan Kota Potensial Wisata, dan Penghargaan sebagai Kepala Daerah Inovatif dan Kreatif pada gelaran Property and Bank Award 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *