Oleh : Ki Demang
Penggagas Kampung Budaya Polowijen

Tanggal 2 Oktober adalah hari istimewa bagi pecinta batik nusantara sebagai Hari Batik Nasional. Penetapan batik sebagai warisan budaya oleh Unesco menjadikan kini semua orang bangga berbusana batik. Dan kini batik mampu meningkatkan kehidupan ekonomi kreatif bagi pelaku usaha dan pecintanya.

Kini hampir tiap daerah menggali potensi dan mengembangkan batik daerahnya. Tak terkecuali pengusaha, pengrajin bahkan komunitas batik sendiri beramai ramai mengembangkan motif batik sesuai dengan ke khasan masing-masing.

Tak ketinggalan Kampung Budaya Polowijen yang natabene sejak berdiri nya KBP sudah melatih membatik 50 warga Polowijen sekalipun yang masih konsisten membatik kurang dari separohnya. Empat tahun perjalanan batik KBP mulai memberikan penanda berati sekaligus ingin membuktikan bahwa motif motif yang di anggap bersejarah dikembangkan sebagai iconnya.

Batik motif ken dedes diambil dari Logo Kampung Budaya Polowijen dimana logo kampung budaya polowijen inspirasinya diambil sebagian dari Arca Prajnaparamita (patung Ken Dedes) yang terdiri dari muka mahkota, sumping dan kalung yang di kenakan (dipakai) olehnya. Kampung budaya Polowijen terletak di Kelurahan Polowijen Kecamatan Blimbing Kota Malang dimana kampung ini lokasinya berdekatan dengan situs Ken Dedes yang di tengarai sebagai tempat dimana Ken Dedes sejak kecil hingga dewasa tinggal di Polowijen yang dulu bernama Panawidyan.

Hal ini tertulis dalam Parasasti Prasasti Wurandungan/Kanuruhan B, keputusan tersebut telah disampaikan pada hari Rabo Wage, tanggal 10 paro terang (suklapaksa), pada bulan Palguna, tahun Saka 865 (7 Nopember 944 Masehi). Dengan demikian terdapat jeda waktu empat tahun (948-944 = 4 tahun) antara waktu dikeluarkannya keputusan yang disuratkan ke dalam ripta atau mungkin linggopra-sasti dengan waktu penyalinannya ke dalam tamraprasasti. Atau dengan perkataan lain, keputusan penetapan Sima Panawijyan dilakan pada tahun Saka 865, dan bila dikonversikan ke tarikh Masehi jatuh pada tanggal 7 Nopember 944. Berarti, kini penetapan sima Panawijyan telah mencapai usia 1077 tahun.

Diriwayatkan Ken Dedes adalah Putra pendeta Agama Budha Mpu Purwa di Panawidyan. Kitab Pararaton menyebutkan bahwa Mpu Purwa memiliki pertapaan di Setra Panawidyan. Dalam perkembangan Jaman Mojopahit daerah ini tetap digunakan sebagai asrama kependetaan agama Resi. Atas dasar inilah nama Panawidyan atau Panawijen atau sekarang Polowijen itu ada dan Kampung Budaya Polowijen mengambil nama sebagai kampung budaya yang di kontekstualisasikan dalam nama Ken Dedes yang berasal dari Polowijen.

 

Nama Ken Dedes telah melekat dengan kisa perebutan tahta yang dilakukan Ken Arok. Setelah suaminya meninggal di tangan Ken Arok, ia kemudian menikah dengan pembunuh suaminya sendiri dan menjadi permaisuri Kerajaan Singasari. Namun kisah wanita ini tidak hanya berpusat pada Ken Arok. Kehidupannya sendiri sebenarnya memiliki kisah yang lebih menarik sebagai wanita yang nantinya melahirkan keturunan raja-raja Jawa

Masyarakat Jawa percaya bahwa raja adalah sosok pilihan Tuhan. Maka Ken Dedes yang menurut kitab Pararaton adalah leluhur raja Majapahit digambarkan memiliki keistimewaan dan ciri-ciri sebagai wanita nareswari. Ia juga digambarkan sebagai penganut Buddha yang menguasai ilmu karma amamadang atau cara lepas dari samsara.

Adapun Ken Dedes yang di gambarkan dalam Arca Prajnaparamita mungkin merupakan citra sang dewi kebijaksanaan transendental yang paling terkenal. Ekspresi raut wajah yang tenang dengan pose dan gestur meditatif menunjukkan kedamaian dan kebijaksanaan, kontras dengan perhiasan dan dekorasi yang beraneka ragam dan rumit. Roman mukanya tenang dengan pandangan mata terpusat pada ujung hidung.

Sang dewi menggelung rambutnya tinggi ke atas dalam mahkota Jatamakuta, dan di belakang kepalanya memancarkan prabhamandala, sebuah halo atau aura lingkaran cahaya yang melambangkan makhluk suci yang telah mencapai kebijaksanaan tertinggi.

Mahkota yang dikenakannya berbentuk kiritamakuta yang motifnya tidak didapat pada arca-arca lain. Mahkota inipada sisi-sisinya dikelilingi oleh empat simbar besar dalam posisi pada pusat penjuru mata angin, sedang empat simbar yang lebih kecil lagi berada pada posisi penjuru mata angin lainnya. Posisi simbar-simbar pada sisi mahkota mengingatkan kita kepada konsep Meru yang terdiri dari puncak tertinggi yang dikelilingi oleh empat puncak yang lebih rendah.

Pada keningnya terdapat bulatan berbentuk bunga teratai merah kecil sebagai Urna. Atribut perhiasan yang dipakai sangat raya (samboghakaya), sehingga kesan telanjang pada badan bagian atas yang memang tidak berkain tampak tertutupi oleh perhiasan yang dikenakannya.Memakai anting (kundala) dari bunga padma. Dibahunya terdapat hiasan lempeng emas yang tipis yang dihias dengan manik-manik. Hiasan tersebut terjuntai dari sisi mahkota di belakang telinga. Pada bagian ini juga terikat semacam untaian kalung yang panjang yang terjuntai kebawah hingga lutut.

Sedangkan kalung manik-manik dan perhiasan menghias lehernya yang jenjang hingga dadanya. Leher tersebut juga dihias dengan kalung (hara) yang ganda pula. Satu kalung berbentuk untaian manik-manik, sedang kalung dibawahnya berbentuk lempengan emas yang dihias dengan permata yang bermotif.

Demikian kiranya motif Batik Ken Dedes yang diambil dari logo Kampung Budaya Polowijen yang terinspirasi dari sebagaian patung/arca pratjaparamita atau orang umum menyebutnya sebagai patung Ken Dedes yang tidak diambil secara keseluruhan melainkan face/muka beserta rambut yang di gelung yang bermahkota dan di lehernya dihiasi kamung yang menjulur hingga dadanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *