Kab. MOJOKERTO

KEJAYAAN KAMPUNG MOJOPAHIT

Trowulan, sebuah kecamatan di Kabupaten Mojokerto Jawa Timur, dipercaya oleh banyak arkeolog sebagai ibukota  kerajaan Majapahit. Salah satu kerajaan besar yang pernah ada di Tanah Jawa yang mengusai bumi nusantara. Banyak temuan, baik candi, petirtaan, bekas pemukiman, kanal, kolam besar serta sebaran kekunaan yang tersebar di area ini. Terilhami oleh kemashyuran Majapahit dan potensi wisata purbakala yang demikian besar, maka sejak 4 tahun terakhir di beberapa titik kawasan Trowulan sedang disulap menjadi “Kampung Majapahit”.

Kisah kejayaan kerajaan Majapahit masih menjadi perbincangan hingga kini. Jejak kebesarannya terus diteliti oleh arkeolog, ilmuwan, hingga paranormal. Kerajaan yang pernah tumbuh besar pada tahun 1293 M hingga ambruk pada sekitar tahun 1500 M ini menyisakan banyak jejak sejarah. Jejak-jejak itu dicoba untuk dikembalikan dengan dibangunnya puing-puing sisa kerajaan di sebuah desa yang di sebut dengan Kampung Majapahit.  Adalah kawasan pemukiman penduduk berupa  deretan  rumah tinggal  berarsitektur  Majapahit. Rencana awal akan dibangun sebanyak 296 rumah bernuansa Majapahit yang disebar di tiga desa; Bejijong, Sentonorejo dan Jatipasar. Tapi agaknya, jumlah rumah yang direnovasi jadi rumah berarsitektur Majapahit akan terus bertambah. Boleh jadi, inisiator Kampung Majapahit adalah Soekarwo atau  Pak De Karwo, gubernur Jawa Timur sendiri,  lantaran dalam beberapa kali kesempatan mendengarkan pidato beliau. Kemegahan, kemashyuran dan nama besar Majapahit  selalu terselip di dalamnya. Agaknya Majapahit begitu menginspirasi beliau. Tak pelak, anggaran dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemkab Mojokerto pun digelontorkan untuk pengerjaan proyek ini sejak tahun 2014

Jika kita lihat sisa-sisa keruntuhan Majapahit di Desa Bejijong, di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Desa tersebut memang dipenuhi sisa bangunan, tembok kuno, batu-batuan kuno, hingga tata letak bangunan-bangunan yang menunjukkan usia yang sudah sangat tua. Tak heran jika Desa Bejijong dikenal sebagai Kampung Majapahit. Untuk menuju Desa Bejijong tidaklah sulit karena posisi desa berada persis di pinggir jalan utama yang menghubungkan Jombang-Mojokerto. Melewati gapura Kampung Majapahit pemandangan memang sudah berbeda dibanding dengan desa-desa tetangga. Sebuah rumah bergaya kuno berdiri kokoh. Bentuk bangunan rumah menyerupai pendopo, sedikit terbuka dengan empat tiang kayu penyangga. Lantai terbuat dari batu sungai yang ditutup dengan batu berwarna merah marun. Atap rumah berbentuk limas segitiga yang memanjang. Kemudian pintu masuknya terdiri dari dua daun pintu kembar yang terbuat dari kayu dengan ukuran lumayan besar. Di kiri dan kanan pintu terdapat dua buah jendela yang juga terbuat dari kayu. Setelah melewati rumah pendopo tersebut, suasana perkampungan ala Majapahit semakin terasa. Pasalnya, semakin masuk kampung semakin banyak pula rumah yang berbentuk serupa. Rumah itu berjajar-jajar berdampingan di kanan dan kiri jalan utama desa. Yang membedakan hanyalah ukurannya, ada yang besar ada yang kecil.

Di Desa ini memang terdapat banyak peninggalan bersejarah Kerajaan Majapahit. Diantaranya Candi Brahu dan Makam Siti Inggil yang merupakan makam sang raja Majapahit yaitu Raden Wijaya. Di Bejijong juga terdapat Maha Vihara Majapahit Bejijong. Bangunan-bangunan kuno itu menyatu dengan rumah-rumah bergaya kuno, meski dibangun baru sekitar dua tahun

sebagai proyek mengembalikan wajah kampung Majapahit. Tak hanya sekadar rumah dan bangunan kuno saja yang menyuguhkan nuansa kuno di Desa Bejijong. Namun desa dengan julukan kampung Majapahit itu juga semakin membawa imajinasi pada kerajaan Majapahit zaman dulu karena aktivitas sebagian besar warganya. Di kampung tersebut warganya kebanyakan berprofesi sebagai pengrajin batik tulis khas Majapahit. Sebagian lainnya adalah pengrajin patung tanah liat.

Desain awal bentuk rumah Kampung Majapahit  yang dibangun itu berdasarkan hasil rekonstruksi para arsitek dan arkeolog terhadap sebuah rumah para kawulo (masyarakat biasa) pada zaman Majapahit, lengkap dengan dinding kayu dan atap genteng yang saat ini masih tersimpan di Museum Trowulan, Mojokerto. Dengan konsep di zaman itu, ruangan rumah hanya berfungsi sebagai tempat tidur, sementara aktivitas kehidupan lainnya dilakukan di luar rumah.

Program Kampung Majapahit menjadi inspirasi Pemkab Mojokerto untuk mengembangkan potensi peninggalan sejarah dan budaya Majapahit. Tidak hanya berciri khas di bangunannya, tapi juga dilengkapi dengan atraksi budaya yang periodik. Maka, Trowulan akan makin moncer. Tidak saja sebagai kawasan Cagar Budaya yang dilindungi, tapi juga akan menjadi destinasi wisata budaya  andalan Jawa Timur. Tentu saja seiring makin melonjaknya kunjungan wisatawan,  akan mendongkrak geliat ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Pemanfaatan bangunan rumah hunian khas zaman Kerajaan Majapahit nantinya akan digunakan untuk penginapan (home stay) bagi wisatawan, toko suvernir barang kerajinan dan seni (art shop) dan tentu saja menjadi obyek wisata tersendiri bagi mereka yang ingin melihat bagaimana suasana perkampungan kerajaan zaman dahulu. Rumah-rumah bergaya Majapahit itu pun layak di isi dengan aktaksi seni dan budaya untuk di suguhkan bagi para pengunjung yang merupakan pengembangan ekonomi kreatif berbasis wisata.

Kampung Majapahit merupakan kawasan kampung wisata yang terdiri dari 3 desa yaitu Desa Bejijong, Sentonorejo, dan Jatipasar ini terdapat banyak potensi wisata situs Trowulan dan juga potensi ekonomi kreatif di dalamnya. Di dalam ketiga desa tersebut banyak pengerajin seperti patung, batik, cor kuningan dan tembaga. Dalam pengembangannya banyak terlihat pada Desa Bejijong. Kampung Majapahit memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata budaya. Arahan pengembangan dan pengintegrasian kawasan ditunjang sebagai kawasan wisata budaya Kampung Majapahit dengan kegiatan wisata menjadi 3 zona, antara lain zona inti, zona pendukung langsung, dan zona pendukung tidak langsung. Hasil analisis zonasi tersebut pusat pengembangan Kampung Majapahit dipusatkan pada Desa Bejijong yang memiliki kepadatan bangunan dan rumah Majapahit yang tinggi. Sementara Desa Jatipasar dan Desa Sentonorejo diarahkan untuk desa penyangga yang menunjang sarana dan prasarana pariwisata Kampung Majapahit. Sementara arahan pengembangan makro merupakan arahan umum untuk ketiga zona pengembangan kegiatan wisata Kampung Majapahit.

Keseriusan Pemerintah Kabupaten Mojokerto dalam melesetarikan peninggalan sejarah

majapahit patut diapresiasi. Sudah sepatutnya untuk bisa menghargai serta bisa melestaikan kebudayaan yang telah di bentuk dimasa lampau. Menjaga adalah tugas bersama bagi generasi agar selalu mengingat sejarah. Kepedulian pekab mojokerto akan kelestaian budaya majapahit diharapkan mampu membawa dampak positif dalam peningkatan kunjungan wisata yang dapat meningkat perekonomian daerah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *