Edisi “Hari Lahir Pancasila”

Oleh : M. Dwi Cahyono

Hai jatayu yang maha mulia,
sungguh kuat dikau mempertahan.kan jiwa.
Karena cinta kasihmu bersahabat terhadap
ayahku lekat sekali,
berkelanjutan sampai kepada aku, putanya.
Amatlah mulia wahai dikau burung perkasa
Tatkala engkau masih hidup tadi,
ayahku kurasakan masih hidup,
sekarang ketika engkau telah meninggal,
sungguh bertambah sedih hatiku

(Teks “Kakawin Ramayana” abad IX Masehi)

A. Kekerabatan Jatayu, Garuda dan Sempati

Dalam dunia mitologi, bukan hanya manusia yang tampil sebagai “sang pahlawan”. Ada sejumlah binatang perkasa, yang dikisahkan sedia bhaktikan diri pada pihak lain. Malahan, secara “altrustik” mengorbankan jiwanya demi suatu pertolongan. Diantara binatang heoroik itu adalah “Jatayu” sebagaimana diceritakan di dalam kakawin Jawa Kuna Ramayana dan direliefkan di pagar langkan sisi dalam induk Ciwa [dalam kompleks percandian Prambanan]. Wiracarita Ramayana mengisahkan Jatayu sebagai ber- upaya mati-matian untuk membebaskan Sita dari penculikan Rahwana. Namun nahas, dia terkena tombak Dasamuka, hingga akhirnya gugur sesaat setelah serahkan cicin (karah) pettanda kasih dari Sita kepada kekasihnya, Rama. Siapa sebenarnya Jatayu? Bagaimana hubungan dirinya dengan Sri Rama?

Jatayu adalah sahabat baik Dasarata, raja di Nagari Kosala yang berkadatwan di Ayodhya. Dasarata dipersonikasikan sebagai “manusia yang sempurna (Maryada Purushottama)”, keturunan dinasti Surya (Suryavamsa) yang hidup di zaman (yuga) ke-2, yaitu Tretayuga (zaman perak). Pernikahan antara Dasarata dengan Kosalya menurunkan putra sulung bernama “Rāmacandra (रामचन्द्र)”, atau lazim disebut “Rama (राम)”. Dalam mitologi agama Hindu, Rama dimitoskan sebagai satu diantara sepuluh jelmaan Wisnu ke dunia (Wisnwantara) untuk membebaskan manusia dari keangka- murkaan raksasa Rahwana yang menjadi raja di Alengka. Jadi, Jatayu adalah sahabat baik dari ayah Rama. Terkait dengan itu, kakawin Ramayana menyatakan :
“Karena cinta kasihmu bersahabat terhadap
ayahku lekat sekali,
berkelanjutan sampai kepada aku, puteranya”.

Rama adalah salah satu awatara dari Dewa Wisnu. Kendaraan (wahaha) Wisnu adalah Garuda. Ada hubungan kekerabatan antara Garuda dan Jatayu, sebagaimana tetkusah dalam Adiparwa, yakni parwa yang pertama dari wiracarita Mahabharata, tepatnya di dalam kisah “Garudeya”. Jatayu (जटायू)) yang ada- lah tokoh protagonis dalam Ramayana ini merupakan putra dari Aruna. Adapun Aruna adalah saudara Garuda. Keduanya lahir dari dua diantara tiga butir telur pemberian Kasyapa kepada istrinya, Winata Aruna yang menjadi sais Dewa Surya itu lahir dari tetasan telur ke-2, adapun Garuda lahir dari tetasan telur ke-3. Dengan demikian, Jatayu yang me- rupakan putra dari pernikahan Aruna dengan Dewi Syeni adalah keponakan Garuda. Jatayu berkerabatat dengan Sempati, yang metupa- kan putra sulung dari pernikahan Geruda dan putri raja Daksa. Baik Garuda, Jatayu maupun Sempati dikisahkan sebagai burung-burung petkasa dalam Ramayana dan Mahabarata.

B. Heroistik Sang Jatayu dalam Ramayana

Kisah kepahlawanan Jatayu didapati dalam kitab wiracarita Ramayana, termasuk dalam terje- mahan Rananana berbahasa Sanskreta karya Walmiki ke dalam bahasa Jawa Kuna dalam bentuk kakawin semasa pemerintahan Balitung (tahun 899–911 M.). Jatayu tampil serta merta untuk membebaskan Dewi Sita yang tengah diculik oleh Rahwana untuk dibawa terbang ke Nagari Langka (Alengka, kini berada di Pulau Srilangka). Ketika Sita (putribraja prabu Janaka) menjerit-jerit lantar- an ibawa kabur oleh Rawana, Jatayu kala itu sedang berada di dahan sebuah pohon sem- pat mendengarnya. Ia melihat ke arah atas, dan tampak dengan jelas Rahwana terbang membawa Sita. Jatayu yang bersahabat baik dengan Raja Dasarata, merasa bertanggung jawab terhadap Sita, yang merupakan istri dari putera sahabatnya, yaitu Rama. Dengan jiwa ksatria meluap-luap dan berada di pihak yang benar, Jatayu tak gentar untuk melawan Rawana. Jatayu menyerang Rahwana dengan segenap tenaganya. Namun Jatayu yang kala itu sudah renta tak kuasa untuk menghadapi raksasa Rahwana.

Kisah pertolongan Jatayu itu tergambar jelas dalam relief Ramayana dipahatkan pada pagar langkan sisi dalam dari candi Siwa dalam kompleks candi Prambanan, yang dibangun masa pemerintahan Raja Balitung di era keemasan kerajaan Mataram. Tatkala Jatayu telah berada dekat dengan Sita, sontak raja raksasa Rahwana menghujamkan tombak ke arah Jatayu — dalam teks Ramayana, Jatayu dikusahkan terluka akibat pedang Rahwana yang ditebaskan ke arah sayap Jatayu, sehingga tubuhnta jatuh ke tanah dengan darah bercucuran. Beruntung, sebelum Jatayu jatuh ke tanah, Sita sempat menitipkan cincin (ka- rah) yang konon diberikan oleh Rama kepada dirinya sebagai tanda kasihnya. Jatayu telah memperlihatkan “dharmma- bhaktinya” untuk menolong manusia. Kendatipun Jatayu adalah binatang berjenis unggas (burung), namun memiliki peri kemanusiaan, jiwa penolong.

Manakala Rama bersama Lakshmana tengah menelusuri hutan untuk mencari keberadaan Sita, tampak oleh mereka darah berceceran. Setelah dicari asalnya, mereka menemukan seekor burung tanpa sayap sedang sekarat. Burung itu mengaku bernama Jatayu Rama teringat bahwa Jatayu adalah sahabat baik dari ayahnya (raja Dasarata). Dari sang Jatayu itu Rama menjadu tahu bahwa Sita diculik oleh Rahwana untuk dibawa terbang jauh ke arah selatan, yaitu ke nagari Alengka. Bahkan, Sita sempat menyerahkan karahnya untuk dititipksn pada Jatayu agar diserahkan kepada Rama. Meluhat kondisi Jatayu yang sejarah, Rama memberi hormat untuk yang terakhir kalinya. Tak lama kemudian Jatayu menghembuskan napas terakhirnya, gugur sebagai pahlawan kemanusian, menolong seorang perempuan yang diculik oleh pelaku angkaramurka. Betapa sedih Sri Rama atas meninggalnya sang Jatayu, yang dalam teks kakawin Ramayana disebutkan :
“…… sekarang ketika engkau telah meninggal,
sungguh bertambah sedih hatiku.”

Setelah bersabda demikian, lalu Rama melakukan upacara pembakaran jenazah meskipun dengan sederhana untuk Jatayu. Jenazahnya menda- pat percikan tirtha (air suci) oleh seseorang yang “berjiwa suci”, Rama, yang adalah awatara Wisnu. Demikianlah Jatayu, gambaran mengenai “sang penolong, sang pembebas (mesias)”, maskipun terkalahkan, dan akhirnya tewas. Kisah mengebai pembebasan sang Jatayu ini menjadi tema populer dalam pewayangan Jawa oleh karena itu, pada wayang kulit terdapat juga figur (pupet) yang menggambarkan Jatayu. Ada yang digambarkan dalam bentuk burung besar sepenuhnya, namun ada juga yang mempersonifikasikannta dalam wajud antrophomirfis, sebagai manusia setengah burung. Sebutan di dalam bahasa Jawa Baru adalah “Jentayu”.

Pada sumberdata prasasti, yaitu prasasti-prasadti dari masa akhir pemerintahan Airlangga, dirinya disebut dengan ” Jatiningrat” atau Rsi Jatayu. Unsur sebutan “Jatayu” Itu mengingatkan kepada Garuda sebagai wahana Dewa Wisnu. Yang menarik, dalam pemberitaan ini, raja Airlangga tidak dihubungkan dengan Garuda, melainkan dengan keponakannya, yaitu Jatayu. Hal ini memberikan informasi bahwa kala itu (abad XI M.), kisah mengenai kepahlawanan Jatayu telah dikenal luas, bahkan mempesona hati masyarakat Jawa Kuna. Raja Airlangga mewarisi kepahlawanan dari burung perkasa Jatayu.

C. Popularitas Legenda Jatayu di India

Kepahlawanan tebtabg Jatayu populer di India. Ada anggapan bahwasanya tempat dimana Sri Rama menemukan Jatayu yang sedang sekarat itu berada di Distrik Kollam, Kerala. Di tempat ini terdapat batu besar yang dinamai “Jatayumangalam” atau
atau “Jatayu Para”, yang sebutannya diambil dari nama “Jatayu”. Kini Jatayu Para menjadi objek wisata yang terke- nak di India Bahka di Kerala terdapat patung burung tyang terbesar sedunia, yaitu patung bernama “Jatayu Earth Centre”, dengan tinggi 21 dan pan- ng 60 meter. Patung buah karya Rajiv Anchal, seorang sutradara sekaligus pembuat patung terkenal di India.

Selain Jatayu, di India juga ada mitos yang cukup populer mengenai Sempati, yakni burung perkasa putra dari Garuda, yang ma- sih bersaudara dengan Jatayu. Ramayana mengksahkan bahwa Hanoman beserta para wanara lainnya di pantai yang berada di selat antara semenanjung India Selatan (Tamil) dan Pulau Langka. Di pantai ini mereka bertemu dengan Sempati, seekor burung raksasa yang tak bersayap, yang ketika itu tengah duduk sendirian di pantai sambil menunggu bangkai hewan buat dimakannya. Dari percakapan para wanara, itu, Sempati mendengar peristiwa tentang Sita dan kematian Jatayu, Sempati sedih atas kematian saudaranys dan meminta agar wanara berkenan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Anggada ceritakan dengan panjang lebar. Atas keterangan dari Sempati, para wanara menjadi tahu bahwa Sita ditawan di sebuah istana yang terletak di Kerajaan Alengka yang diperintah oleh raja Rahwana. Para wanara berterima kasih atas keterangan Sempati, kemudian memikirkan cara agar sampai di Alengka.

Demikianlah tulisan ringkas tentang Jatayu burung perkasa yang heroik, yang bet dharma bhakti untuk memberikan pertolongan pada manusia, yakni Sita tatkala diculik oleh raja raksasa Rahwana. Sikap altrustiknya sebagai pejuang kemanuaiaan patut diteladani. Spirit tulisan ini semoga bisa memberi kedaerahan bagi kita sekarang nuwun.

Sangkalung, 1 Juni 2020
Griya Ajar CITRALEKHA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *