Saat ini perekonomian global sangat terguncang tak terkecuali Indonesia.  Tak ada yang tau kondisi seperti ini kapan berakhir. Kesulitan ekonomi juga berdampak kepada seluruh masyarakat. Tak sedikit masyarakat yang harus kehilangan pekerjaannya.

Investasi mungkin dapat menjadi salah satu solusi masyarakat untuk selamat dari kesulitan keuangan yang tak tau kapan berakhirnya sekaligus investasi ini dapat dijadikan sebagai jaminan untuk  ketidakpastian yg terjadi dimasa depan.

Dilansir dari media Kompas.com pakar investasi Freddy Tedja mengatakan, memilih untuk memegang uang tunai memang membuat kita bisa dengan mudah menggunakannya jika ada kebutuhan mendesak.

Namun demikian, Freddy mengingatkan, nilai uang tidak akan berkembang dan justru akan tergerus inflasi.

Pemerintah juga telah membuat aturan untuk tetap berada di rumah dan beberapa tempat wisata, nongkrong dan pusat pembelanjaan juga telah di tutup sementara. Sehingga menghimpun uang ditangan pun dirasa juga tidak terlalu penting.

Berikut ini ada beberapa sektor yang dapat menjadi alternatif untuk berinvestasi ditengah pendemi COVID-19.

  1. Produk properti merupakan salah satu jenis investasi yang aman karena faktor kebutuhan dan harganya yang selalu naik. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan dua keuntungan sekaligus, yaitu pendapatan sewa dan capital gain.Terlebih lagi, pasar properti saat ini sedang gencar-gencarnya menawarkan berbagai promo, bonus, dan kemudahan-kemudahan lainnya.
  2. Emas menjadi instrumen investasi paling bersinar dan mendapat cuan selama kuartal pertama 2020. Bahkan, prediksinya akan terus dilirik jika ketidakpastian ekonomi akibat wabah masih berlanjut. Sama halnya dengan properti, logam mulia merupakan salah satu instrumen investasi yang juga terbilang aman karena minim risiko. Hal tersebut dilihat dari harga emas yang relatif stabil, malahan cenderung naik dari waktu ke waktu, sehingga Anda akan mendapatkan keuntungan lebih tinggi ketika menjualnya kembali.
  3. Saham. Penurunan sekitar 30 persen Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi pada awal Maret 2020 membuat harga saham menjadi murah. Melihat pergerakan IHSG yang merosot seperti itu, praktisi bisnis Rhenald Kasali mengatakan, kondisi tersebut bisa dimanfaatkan untuk berinvestasi saham. Pasalnya, ini adalah momen ketika pasar saham “sedang diskon”. Meski begitu, Rhenald memberi sedikit catatan. Ia menyarankan untuk menjadikan saham sebagai investasi jangka panjang (long term) bukan jangka pendek (short term). Hal ini mengingat tujuan akhir berinvestasi adalah untuk mengumpulkan kekayaan, sehingga membutuhkan waktu. Investasi jenis saham ini juga didasari pertimbangan saham-saham yang mengalami penurunan drastis kemungkinan akan kembali menguat beberapa tahun ke depan.

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *