Kampung Warna Warni Jodipan.

Kampung tematik perintis pertama di Kota Malang yang menjadi wisata jujukan para wisatawan yang datang ke Kota Malang dan akhirnya banyak di tiru oleh daerah lain. Kampung yang padat penduduk dan berada di das Brantas mampu menyulap dari kampung kumuh menjadi kampung sangat layak dikunjung untuk wisata kota dan ber swafoto karena keunikan warna warninya.

Musim pandemi Covid 19 ini sangat terasa dampaknya pada sektor pariwisata, KWJ juga sangat terpukul sepi dari pengunjung dan sempat tutup selama 5. Ternyata di tengah sepinya kunjungan justru di manfaatkan oleh warganya untuk melatih diri membekali kembali kemampuan warganya dengan segala potensinya. Salah satunya adalah anak-anak di latih menari dengan ragam tari tadisional dan kontemporer.

Minggu 4/10 Kampung Warna Warni Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang menyelenggarakan event Geliat Warna Warni Dengan Segala Potensi. Ini merupakan event ke 3 kampung tematik se Kota Malang dari 15 event yang akan digelar selama bulan oktober ini dari yg sebelumnya Kampung terapi hijau dan kampung Kuburan londo berkolaborasi dalam Featival Batik Sukun yang di fasilitasi Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Malang. Dan minggu depan tanggal 11/10 eventnya pindah ke kampung Keramik Dinoyo dan kampung Tridi.

Hadir pula dalam acara tersebut Penggagas Kampung Budaya Polowijen yakni Ki Demang selaku Ketua Forkom Pokdarwis Kota Malang yang turut meneyambut kemeriaah acara tersebut “Dulu Kampung Budaya Polowijen sering mendatangkan rombongan penari ikut menari disini karena pingin ikut terkenal di kampung ini”. Mahasiswa dari Seni Tari UM termasuk komunitas seni lainnya juga pingin menari disini karena ikut bangga sebagai orang kota yang punya tempat wisata yang paling banyak pengunjungnya. Imbuh pria yang punya nama asli Isa Wahyudi.

Mokhammad Rosyidi selaku perencana event ini menyampaikan bahwa event ini di gelar dalam rangka sosialisasi adaptasi kebiasaan baru pasca pandemi. “Selain semua warga membiasakan protokol kesehatan warga harus tetap mengebangkan potensi ekonomi serta minat bakatnya”. Karena itu kami terus bergeliat agar kampung kami tidak monoton warna warninya saja tetapi pengunjung bisa melihat potensi masyarakatnya.

Adapun Geliat Warna Wani di acara ini lebih banyak menampikan tari tradisional dan tari kontemporer seperti Ogleg, Jaranan, Sholatun, Rejeng Renteng, Tokecang, Embok Jamu, Candim Ayu, Maumere, Prau Layar, Indiana, Tanduk Mejeng, Kicir Kicir. Selain itu ada tarian kontemporen seperti Dance Sbaby Shark, Pokemon, Tak Ada Logika, Syantik. Ada pula Tikitok Remaja, How You Like That, Apa Salahku, Virus Corona serta tiktik remaja tiktok campuran akuistik dan karoke.

Acara di gelar sejak pukul 9 pagi hingga pukul 3 sore di hadiri oleh warga setempat saja tidak mengundang tamu lainnya termasuk pengunjung kampungpun hanya lihat dan lewat saja. Semua murni menjadi kegiatan membangkitkan warga dengan menggunakan protokol kesehatan yang ketat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *