PRASASTI TURIAN: MPU SENDOK DAN IKAN BANDENG

Kecamatan Turen, salah satu kecamatan di kabupaten Malang, propinsi Jawa Timur memiliki kisah sejarah yang cukup panjang dan menarik untuk dipelajari. Salah satu peninggalan arkeologis yang penting berupa keberadaan situs prasasti mpu Sendok yang dibuat pada tarikh 851 Saka atau 929 Masehi membuktikan wilayah kecamatan Turen, khususnya di masyarakat RT II/RW I, dusun Tanggung, desa Tanggung, kecamatan Turen, kabupaten Malang sampai sekarang masih menjaga, memelihara, dan merawat dengan baik keberadaan situs prasasti mpu Sendok atau yang lebih dikenal dengan nama _prasasti Turian_ merujuk nama kecamatan Turen itu sendiri.

Sejarah keberadaan situs prasasti mpu Sendok yang masih bisa dilihat sampai sekarang ini berupa pahatan-pahatan tulisan-tulisan huruf Sansekerta pada dinding batu jenis andesit, bukti sejarah dari situs prasasti mpu Sendok menurut cerita dari juru kunci situs Amanatus Zuhriah Romadhonia (40) berawal seorang pendeta Hindu-Budha Ndang mpu Satya meminta mpu Sendok untuk membangun tempat peribadatan dengan modal 3 keping emas dan 1 karung kati.
Namun berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti Belanda pada tahun 1988, J. G. De Casparis dalam tulisannya _Where Was Pu Sendoks Capital Situaded, in South-east Asia Archaelogy No. 2:39-52_ dengan menyimpulkan mpu Sendok-lah yang memerintahkan seorang pendeta Ndang mpu Satya pada tahun 929 Masehi untuk membangun tempat peribadatan Hindu-Budha.

Amanatus juru kunci yang sudah merupakan generasi ke 3 juru kunci situs prasasti mpu Sendok mengatakan permintaan Ndang mpu Satya kepada mpu Sendok untuk mendirikan tempat peribadatan umat Hindu-Budha, dengan diberikannya sebidang tanah di sebelah barat desa Turian yang dekat dengan sungai Jaruman atau sungai Blugan, Blugan sendiri merujuk pada spesies burung yang sudah punah. “Dengan modal 3 keping emas dan 1 karung kati mpu Sendok mendirikan tempat peribadatan Hindu-Budha. Di kawasan lokasi situs prasasti mpu Sendok banyak ditemukan bata merah kuno dan beberapa lingga yoni, dan arca dewa Siwa karena dulu situs prasasti mpu Sendok tidak terpagar dengan baik seperti sekarang ini, banyak temuan-temuan arkeologis hilang di curi,” ujar Amanatus (4/7).

Lanjut Amanatus lingkungan situs prasasti mpu Sendok merupakan kawasan pertanian yang cukup subur, dan keinginan pemerintahan desa Tanggung, kecamatan Turen, kawasan situs prasasti mpu Sendok akan dibangun fasilitas wisata sejarah. Situs prasasti mpu Sendok terkait erat dengan kawasan pasar terbesar di pusat kota Turen yang tidak jauh ditemukannya lokasi kurang lebih 2 KM dari situs prasasti mpu Sendok. “Kemungkinan kawasan peribadatan yang dibangun mpu Sendok masa Hindu-Budha dekat dengan pusat pasar yang sudah ada sebelumnya, sebagai sarana belanja kebutuhan peribadatan. Pemerintah desa Tanggung dan pihak kecamatan Turen sudah ada rencana pengerjaan di lokasi situs prasasti mpu Sendok dengan perataan tanah dan pengkavlingan tanah, informasinya akan dibuat bangunan fasilitas umum untuk warga dusun sebagai area kawasan wisata sejarah. Dan di bawah situs prasasti mpu Sendok terdapat sungai yang katanya akan di buat wisata arung jeram,” ujarnya.

Masih menurut Amanatus situs prasasti mpu Sendok ini banyak penamaannya, seperti watu godek (Bahasa Jawa: menggelengkan kepala), karena tulisan yang terpahat di batu situs tidak bisa terbaca dengan baik dan jelas, kedua konon kepercayaan orang-orang Jawa kuno, setiap hari Jum’at tertentu batu situs prasasti mpu Sendok bisa bergerak sendirinya dan ketiga di situs prasasti mpu Sendok ada lingga yoni apabila di satukan ke situs prasasti mpu Sendok bisa bergerak dengan sedirinya. “Selain itu di dalam situs prasasti mpu Sendok ditemukan arca dewa Siwa yang terpotong kepalanya. Terpotongnya kepala arca dewa Siwa ini penuturan dari sesepuh dusun Tanggung bernama Kaji Rujak Beling karena ulah penjajah di era kolonialisme Belanda, masyarakat dusun Tanggung waktu itu atas pengaruh orang Belanda mempercayai di bagian tertentu kepala dewa Siwa terdapat logam mulia emas atau batuan mulia, kemudian akhirnya di penggal dan di bawa ke Belanda,” ucapnya.

IKAN BANDENG

Sebagai peninggalan arkeologis, keberadaan situs prasasti mpu Sendok tidak bisa dilepaskan dari tradisi warga dusun Tanggung, bahkan masyarakat di kecamatan Turen umumnya. Masyarakat mempercayai situs prasasti mpu Sendok merupakan bagian peninggalan leluhur yang masih dipercaya membawa pengaruh baik buruk bagi masyarakat sekitar situs prasasti mpu Sendok dan masyarakat Turen yang mempercayai kekuatan mistisnya. “Apabila warga dusun atau masyarakat Turen pada umumnya yang akan menggelar hajatan atau kirim doa wajib, sebelum acara dilaksanakan untuk menyuguhkan sesaji berupa lauk ikan Bandeng goreng, nasi kuning gurih, mie, dan sambal goreng tempe tahu ke situs prasasti mpu Sendok jika syarat itu dilanggar akan mendapatkan musibah. Pernah suatu waktu warga lupa untuk memberikan sesaji, cuaca cerah tiba-tiba hujan petir saat acara berlangsung,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *