Keberadaan arca Ganesha khususnya di dusun Karangkates, desa Karangkates, kecamatan Sumberpucung, kabupaten Malang mempunyai makna tersendiria bagi masyarakat kecamatan Sumberpucung. Menilik kebelakang sejarah kecamatan Sumberpucung konon masih hutan lebat yang di lalui sungai Mulo dan sungai Lahor. Bukti adanya peradaban di sepanjang sungai Mulo dan sungai Lahor banyak di temukan batu-batuan berbentuk pahatan lumpang, di duga dari zaman peradaban pemukiman kuno. Ditemukannya arca Ganesha di antara sungai Akso anak sungai Mulo dan sungai Lahor berasal dari Kotapraja Singosari pada masa pemerintahan raja Kertanegara 1272 – 1292 M. Arca Ganesha menghadap arah mata angin utara. Arca Ganesha yang berada di desa Karangkates lebih banyak dipengaruhi Tantra aliran Bhairawa yang juga disebut Batara Ganapati dalam kosmologi Jawa. Penggambaran arca Ganesha sebagai Wighneswara yang konon mempunyai kemampuan menghalau bencana yang di tempatkan terpisah dari candi induk.

Dituturkan juru kunci arca Ganesha Supiah (70), arca Ganesha yang berada di lingkungan RT 7/RW I terbuat dari dua jenis batu andesit, bagian atas arca Ganesha disambungkan pada bagian bawah atau landasan/lapik. “Posisi arca Ganesha berdiri/Samabhangga dan menghadap utara, arca ini bermahkotakan untaian rambut di sanggul keatas/Jatamuka, berhias bulan sabit/Ardhacandrakapala dengan ornament sembilan tengkorak pada bagian bawah arca, tinggi arca 1,5 meter dan lebar 1 meter,” ujar Supiah yang sudah 22 tahun menjadi juru kunci arca Ganesha.
Menurut Supiah beberapa ornamen arca Ganesha sempat dirusak pada saat peristiwa Gestapu/1965. “Pernah dulu dipindahkan ke Singosari menggunakan gerobak yang di tarik 40 ekor kuda, namun pada malam harinya kembali dengan sendirinya,” terang Supiah lagi. Selain sebagai destinasi wisata sejarah situs arca Ganesha, keberadaan arca Ganesha juga tujuan komunitas penggiat aliran ilmu kejawen sebagai kegiatan ritual. “Mereka yang datang ke sini melakukan kegiatan ritual sembahyang, berasal dari Malang, Banyuwangi, Bali, dan kota-kota lain, ada juga yang hanya sekedar lihat-lihat saja,” pungkasnya.

HIDUP ADALAH SENI

Sebagai penggiat kebudayaan lokal di desa Karangkates, kecamatan Sumberpucung, kabupaten Malang sosok Mey Saphira (50) tidak bisa di lepaskan dari kesehariannya sebagai pelaku seni. Di usia SD kelas 3 kegemaran menari tarian Jawa adalah hobby setelah selesai bersekolah. Di bangku SMP aktif di kegiatan pramuka, hingga SMA aktif di pecinta alam, bahkan menjadi anggota GPA/Gabungan Pecinta Alam Jawa timur. Namun darah seni mengalir dari ibu kandung Mey Saphira. “Ibu saya dulu seorang penari tradisional, dari ibu saya, saya banyak mengenal tari-tarian khususnya tarian Jawa dan tari topeng,” ujarnya.


Berangkat dari hobby menari, Mey panggilan akrabnya membuka sanggar tari dirumahnya dengan nama “Sanggar Renaissance”. Kegiatan-kegiatan pertunjukan tari digelar dalam tradisi bersih desa Karangkates selama 3 hari berturut-turut. Selain acara bersih desa Karangkates, kegiatan rutin pada bulan Agustus seperti “Gendang Purnama Ganesha” di gelar, festival budaya lokal juga dimeriahkan dengan bazar rakyat. “Selain itu juga ada festival kampung lumpang dan barikan waringin putih, festival tahunan ini untuk memperingati dan menghormati leluhur yang membuka pemukiman di desa Karangkates ini,” pungkasnya. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *