Kota Malang memang tidak memiliki Sumber Daya Alam (SDA), seperti Kabupaten Malang atau Kota Batu, namun hal tersebut bukanlah suatu halangan untuk melahirkan suatu Destinasi Wisata. Banyak kampung-kampung tematik bermunculan yang notabene merupakan wisata buatan. Tidak kalah menarik, meskipun berlatar buatan namun kampung-kampung yang diinisiasi oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mampu bertumbuh dan berkembang mengenalkan potensi wisatanya dengan tema yang berbeda-beda. Seperti kampung tematik Glintung Water Street (GWS) yang mengusung konsep urban farming.

Gaung urban farming yang mampu mengaplikasikan pertanian di tengah perkotaan merupakan suatu yang perlu diapresiasi. Ketahanan pangan dalam kampung sudah dapat dilakukan secara swadaya. Bagaimana tidak, di ruang perkotaan yang sarat dengan permukiman penduduk mampu disulap dengan mengkolaborasi perikanan dan pertanian. Kampung yang berlokasi di Jalan Letjen S Parman gang 1 Kota Malang ini dapat membudidayakan terong, lombok, lele dan tomat secara hidroponik yang biasa disebut Telolet. Jauh sebelum lahir Kampung Tangguh, kampung yang diketuai ole Ageng Wijayakusuma ini masyarakat nya sudah bahu-membahu dengan membentuk lumbung pangan. Tak mengherankan jika kampung yang menerapkan mlijo gratis ini menjadi jawara dalam penilaian kampung tangguh beberapa pekan yang lalu.

Belajar dari keberhasilan yang sudah diraih Kampung Glintung Water Straat (GWS), para pembakti kampung tematik yang terdiri dari 20 kampung tematik ber-Pokarwis dan 20 kampung tematik rintisan melaksanakan studi banding. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenal lebih dekat GWS dengan menimba ilmu, kiat dan tips yang diberikan. Tidak hanya itu, kegiatan yang dilaksanakan di Balai RW 05 ini juga untuk membicarakan kelanjutan program kerjasama bersama Universitas Brawijaya yang sudah ditandatangani dalam bentuk nota kesepakatan (MoU). Selain itu juga membahas syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi kampung-kampung rintisan untuk menjadi kampung yang ber-pokdarwis.

“Pokdarwis merupakan suatu kelompok masyarakat yang memiliki kesadaran, sebagai penggerak dalam mendukung terciptanya iklim kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan serta mewujudkan Sapta Pesona” ujar Isa Wahyudi, Ketua Forkom Pokdarwis Kota Malang yang menjadi pembicara. Selasa (14/7/2020).

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Ki Demang mengatakan bahwa tidak perlu kampung yang luas untuk menjadi suatu kampung tematik, namun harus ada aktivitas yang mendukung keberdayaan masyarakat dan memiliki potensi wisata untuk menarik wisatawan.

Kegiatan sore berjalan penuh kehangatan dan kekeluargaan. Sesi perkenalan dari kampung rintisan menambah keakraban suasana. Untuk mencairkan dan menambah pengetahuan para undangan diajak betkeliling kampung. Banyak objek menarik yang memang layak untuk dikenalkan.

“Ini adalah aquaponik, tanaman yang ditanam di atas botol air mineral. Harusnya pipa, namun pipa masih belum tersedia. Tak ada rotan akar pun jadi. Aquaponik ini memanfaatkan kotoran ikan untuk pupuk dan air kolam” ungkap Ketua RW, Ageng Wijayakusuma saat mengajak berkeliling kampung.

Pria yang suka mengenakan udeng ini mengatakan bahwa kelebihan dari GWS adalah memanfaatkan lahan sempit di tengah perkotaan untuk menjadi destinasi wisata. Tak pelak, mata dibuat kagum karena adanya kolam ikan lele, nila berada di dalam drainase. Bahkan ada drainase yang khusus menghasilkan lele jumbo sebagai bahan pangan bakso lele. Tidak hanya itu, berjajar akuarium-akuarium dari berbagai ukuran menambah kecantikan kampung yang terdiri dari 5 Rukun Tetangga ini.

Perlu kerja keras dan strategi untuk mewujudkan persamaan visi, misi dalam mencapai tujuan. Pendekatan secara humanis dengan menggandeng para tokoh dan mengikuti alur karakter merupakan salah satu keberhasilan GWS.

“Awal dari GWS bermula dari kelompok Sumber Mili yang merupakan kelompok bentukan masyarakat dan berbadan hukum. Banyak kelompok-kelompok yang terbentuk. Ada kelompok ikan, kelompok pertanian yang pada akhirnya dijadikan satu dalam satu wadah Pokdarwis.

Perlu diketahui, Pokdarwis Glintung Water Straat yang diadopsi dari Bahasa Inggris berarti jalan air ini dibentuk pada Bulan Juli 2019. Itu artinya tepat 1 tahun keberadaan kampung tematik yang dulunya dikenal dengan kampung kumuh. Semoga dalam perjalanannya selalu mengalir tanpa henti, penuh inovasi dan kreasi.

Malang, 14 Juli 2020
Penulis : Hariani
Humas Forkom Pokdarwis Kota Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *