Wabah COVID-19 telah menjelma sebagai pandemik dunia dan serata-merta menghentikan banyak kegiatan produksi karena pembatasan (ketat) mobilitas manusia di dunia. Setidaknya 4.9 Jt orang di dunia telah terinveksi virus ini. Hingga saat ini setidaknya tercatat 19.189 korban positif yang menyebar ke semua provinsi di 387 (75,3 persen) kabupaten/kota. Berbagai himbauan dan kebijakan pun telah dilakukan oleh pemerintah pusat dimulai dari Refocusing Anggaran, tetap bekerja dari rumah (WFH), Social distancing, hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan di beberapa kota, Namun hingga saat ini Corona tidak menunjukkan angka penurunan, grafiknya justru semakin meningkat. Akhirnya Semua berjalan “Penuh Ketidakpastian”.

Sistem informasi dan globalisasi yang sangat masif menjadikan kondisi ekonomi dunia terguncang. Tak terkecuali di Indonesia. Akibatnya ekonomi “Ambyar” Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat hingga 2%, dan tingkat pengangguran diperkirakan naik hingga 7,4%. Para pengusah pun ikut bingung, melanjutkan usahanya atau menghentikan sementara.

Dengan latar belakang ini, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana Jakarta berkolaborasi dengan Universitas Widyagama Malang serta Universitas Sains Malaysia menyelenggarakan Webinar Nasional dengan tema “Dampak Covid-19 Dalam Perspektif Pengamat dan Pelaku Ekonomi” yang diikuti oleh sekitar 500 perserta. Seminar ini dibuka oleh Dekan FEB UMB, Dr. Harnovinsah, SE., Ak., M.Si., CA., Cert. IPSAS., CMA., CSRS.. dengan dimoderatori oleh Ibu Dr. Ana Sopanah SE,. M.Si.Ak. CA. CMA selaku dekan FE Universitas Widyagama Malang.

Narasumber dalam seminar pada hari ini yaitu Prof. Dr. Didik J Rachbini beliau adalah Ekonom INDEF Jakarta dan Guru Besar Ulmu Ekonomi Universitas Mercu Buana Jakarta yang membahas dalam perspektif pengamat, .Ibu Dr. Aviliani, SE., M.Si beliau Senior Ekonom Perbanas yang membahas dalam perspektif pelaku usaha, Narasumber ke 3 adalah Prof. Dr. Noor Hazlina Ahmad beliau merupakan Dean of School of Management USM yang membahas dalam perspektif Akademisi.
Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Didik J Rachbini yang menyatakan bahwa kebijakan pemerintah saat ini lemah seperti terlihat pada kontroversi jajaran pemerintah yang membuat publik bingung sehingga arahan kebijakan tidak efektif. Sementara dalam bidang ekonomi pertumbuhan ekonomi terus menurun ke arah resesi seperti terlihat pada pada pertumbuhan konsumsi, pengeluaran pemerintah, investasi serta ekspor impor bahkan pertumbuhan kuartalan terakhir minus. Setidaknya ada 5 solusi yang di tawarkan oleh didik adalah
• Perbaiki kepemimpinan dalam kebijakan mengatasi covid-19 ini. Kebijakan kesehatan yang utama dan sebagai fondasi kebijakan lainnya, ekonomi, sosial, industri, dll
• Kedua perbaiki komunikasi publik dalam kebijakan, hindari kontroversi dan blunder. Jajaran pemerintah harus solid di bawah kepemimpinan yang baik
• Ketiga, kepemimpinan ekonomi (economic leadership) harus diarahkan pada kebijakan fiskal yang efisien, menghindari kontroversi kebijakan yang tidak punya basis akademik (politik cetak uang, utang tidak terukur, dll)
• Keempat, kebijakan keamanan pangan penduduk
• Kelima, membangun infrastruktur digital, internet untuk menopang kegiatan ekonomi yang masih mungkin selama pandemi

Materi kedua disampaikan oleh Dr. Aviliani, SE., M.Si beliau memaparkan “ Bahwa perekonomian ekonomi di Indonesia sebelum coronapun sudah rendah ditambah dengan adanya dampak dari corona yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi mikro yang bahkan konsumsinya turun hingga -40%. Ada 7 sektor yang paling terdampak karena covid yaitu pariwisata dan turunannya, automotif, transportasi, kontruksi dan real estate, manufatur (sebagian), keuangan dan oli & gas. Dalam Rangka Pemulihan Ekonomi Nasional Pemerintah membuat 3 kebijakan penanganan Covid 19 yaitu PERPU No. 1 Tahun 2020 telah menjadi UU No 2 Tahun 2020, Peraturan OJK No.11/POJK.03/2020, dan Peraturan Pemerintah No 23 tahun 2020. Dalam kondisi Pandemi ini dibutuhkan informasi yang simetrik dari para regulator, wakil rakyat, lembaga pengawas maupun para birokrat, karena masyarakat dalam posisi cukup panik baik karena penghsilan yang sedang menurun maupun keamanan dari dananya di bank atau investasi lain. Hal ini dapat mengundang persepsi negatif di masyarakat.

Kondisi saat ini juga dibutuhkan kolaborasi berbagai komponen agar virus corona dapat teratasi dengan baik, dan Indonesia akan masuk pada “New Normal” karena ada perubahan yang banyak terjadi dari perilaku masyarakat dalam berkonsumsi dan berinvestasi, perilaku organisasi (perusahaan) juga akan berubah, kebijakan di negara maju telah berubah.
Materi ketiga disampaikan oleh Prof. Dr. Noor Hazlina Ahmad beliau memaparkan bahwa Kondisi Malaysia tidak jauh berbeda dengan kondisi Indonesia. .Upaya yang dilakukan pemerintah Malaysia dengan berbagai scenario untuk membantu pemerintah dalam menghadapi covid impact, maka bisnis yang muncul adalah bisnis e-ommerce, bisnis digital workplace, strategi dan mencraning planning, maka dibutuhhkan kondisi new normal yang akan mempengaruhi pada bisnis baru, riset baru, dan work from home.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *