BROMO WISATA SEGER DI SUKU TENGGER

Menikmati pagi di Bromo menjadi impian banyak orang. Suasana hening, dingin, pemandangan yang dasyat. Bromo adalah lukisan alam terindah di Jawa Timur. Gunung Bromo (dari bahasa Sanskerta: Brahma, salah seorang Dewa Utama Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif.

Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi

Gunung Bromo masuk dalam satu kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang terletak di wilayah administratif Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo. Taman ini ditetapkan sejak tahun 1982 dengan luas wilayahnya sekitar 50.276,3 ha.

Salah satu desa yang paling dekat dengan Bromo adalah Desa Ngadisari yang terletak di Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo. Desa Ngadisari berada berbatasan langsung dengan gerbang TNBTS yang merupakan pintu masuk tempat wisata gunung Bromo dari arah Probolinggo. Jarak tempuh desa Ngadisari dari kota Probolinggo sekitar 40 km, sekitar 90 menit perjalanan. Keadaan wilayah desa ini bertopografi bukit, dengan jenis tanah berupa pasir.

Desa ini bisa dikatakan sebagai salah satu desa yang paling dekat dengan lautan pasir Bromo. Gapura dan loket pembelian karcis masuk wisata Gunung Bromo pun berada di desa ini. Dusun yang masih dalam satu lingkup Desa Ngadisari yang juga dekat dengan lautan pasir Bromo adalah Cemoro Lawang. Yang menjadi loket pintu masuk TNBTS yang menyediakan banyak penginapan berupa homestay.

Selain keindahan alam dan kesuburan pertanian serta suasana pedesaan yang masih alami kita dapat melihat sisi lain suku tengger di lereng gunung Bromo dari adat istiadat dan kebiasaan yang selalu laksanakan. Bagi penduduk Bromo, suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak Gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Beberapa upacara adat lainnya seperti upacara Adat Hari Raya Karo, Pujan Kapat, Megeng Dukun, Pujan Kawolu, Pujan Kasanga, Barian, Selamatan Desa (tiap tahun), Mayu Desa (tiap 6 tahun), Unan Unan (tiap 8 tahun), Upacara Sumpah Banyu Roto. Selain itu upacara adat yang berhubungan dengan siklus kehidupan seseorang, seperti: kelahiran (upacara sayut, cuplak puser, tugel kuncung), menikah (upacara walagara), kematian (entas-entas dll), upacara adat yang berhubungan dengan siklus pertanian, mendirikan rumah, dan gejala alam seperti leliwet dan barikan adalah upacara yang tidak pernah di tinggalkan warga syuku tengger. Ini merupakan satu keunikan tersendiri dimana masyarakat masih memegang teguh adat istiadat di tengah gerusan modernisasi.

Masyarakat Tengger percaya dukun untuk memberikan petunjuk dalam hal ritual maupun kehidupan sehari-hari. Meski demikian bagi masyarakat Hindu Tengger tidak akan sembrono berhadapan dengan para dukun ini, apalagi keberadaan para dukun di tengah kehidupan mereka sangat penting.

Desa Ngadisari selain merupakan desa adat yang juga desa wisata, diharapkan bisa meningkatkan arus kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara, pengunjung bisa belajar tentang sistem kehidupan dan adat kebiasaan serta budaya keseharian mereka. Termasuk salah satunya tentang sistem pertanian dan bercocok tanam di daerah pegunungan. Disisi lain wisata alam yang paling favorit di Jawa Timur ini sehingga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar karena tempat penginapan, transpotasi dan kuliner. Seni pertunjukan sering di adakan rutin dan salah satunya Jazz Bromo yang mampu menyedot perhatian para wisatawan.

Di Ngadisari terdapat Dukuh Seruni yang di tetapkan sebaga desa wisata adat, wisatawan tak hanya menikmati pemandangan Gunung Bromo. wisatawan bisa menikmati keindahan lain di sekitar Gunung Bromo, yakni melihat dari dekat gedung rumah adat Tengger, makanan khas nasi aron, kue tradisional kucur dan pasung serta kesenian Jathilan Tengger. Lalu, wisatawan juga bisa menikmati hamparan laut pasir, pasir berbisik, bukit teletubies hingga Seruni Point.

Di seruni point pengujung bisa melihat langsung bromo dari sisi lain yang tidak kalah dengan Penajakan satu atau bukit Kingkong. Di Seruni Point lokasinya lebih luas dan ada 3 tempat yaitu parker panggung pertunjukan dan puncak seruni point di bawah penajakan

Mayoritas masyarakat Dukuh Seruni merupakan masyarakat asli Tengger, suasana ritual yang sangat kental menyelimuti keseharian penduduk Tengger. Mayoritas masyarakat Tengger beragama Hindu, hal ini juga sangat berpengaruh pada keseharian mereka. Hampir setiap langkah mereka diiringi sesaji dan itu akan menambahkan suatu sajian kehidupan yang menarik bagi siapa saja yang akan belajar tentang budaya dan kehidupan sosial kemasyarakatan disana.

Perkembangan terbaru Balai Besar TNBTS menggagas berdirinya Desa Wisata Edelweis untuk menambah variasi objek wisata yang ada di kawasan Gunung Bromo. Harapannya, desa wisata tersebut bisa menarik minat wisatawan sehingga kunjungan ke kawasan Gunung Bromo terus meningkat. Rencananya, Desa Wisata Edelweis akan dikelola secara swadaya oleh masyarakat Suku Tengger yang tinggal di kawasan penyangga Gunung Bromo. Salah satu desa yang diproyeksi menjadi desa wisata bunga abadi itu adalah Desa Ngadisari Kabupaten Probolinggo, Wonokitri Kabupaten Pasuruan, Desa Ngadas Kabupaten Malang, dan Ranupani Kabupaten Lumajang.

Selain bertujuan untuk meningkatkan destinasi wisata, Desa Wisata Edelweis juga sebagai wahana edukasi warga Suku Tengger dalam memberdayakan tanaman edelweis. Sifatnya yang tidak pernah layu membuat banyak wisatawan tertarik dengan bunga yang dianggap sebagai lambang cinta abadi itu. Tidak hanya itu, edelweis juga dijadikan salah satu bunga yang wajib ada dalam setiap sesaji yang dipersembahkan oleh warga Suku Tengger dalam adat keagamaan. Edelweis merupakan tumbuhan dilindungi yang hanya bisa hidup di kawasan setinggi di atas 2.000 mdpl. Dengan adanya desa wisata edelwais warga bisa memberdayakan sendiri tumbuhan edelweis sehingga tidak lagi memetik edelweis yang tumbuh di alam liar. Saat ini, budidaya edelweis masih sebatas di sekolah-sekolah dan di sekitar lokasi Posko Resort Cemoro Lawang. Rencananya budidaya edelweis akan disebarkan ke seluruh warga yang menjadi proyeksi Desa Wisata Edelweis. Konsepnya, Desa Wisata Edelweis itu akan menjadi lokasi selfie bagi wisatawan. Selain itu wisatawan juga bisa memetik langsung edelweis dari pohonnya dengan konsep tanam dan petik.

Bromo Tengger dengan segala pesona alam dan budayanya memang telah menjadi idola wisatawan dalam dan manca. Keindahan alam dan suasana memang tiada duanya seperti di nirwana. Keramahan dan keakaban penduduknya yang selalu menyapa menambah kehangatan saat bercengkrama dan bertutur tentang adat dan tradisinya. Bromo adalah barometer destinasi wisata kelas dunia di Jawa Timur.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *