Kebutuhan pokok manusia adalah pangan. Yang paling umum adalah beras dan jagung. Keduanya diusahakan oleh para petani. Yang menanam padi dan jagung, adalah petani. Jadi, bisa dikatakan bahwa kita semuanya yang memakan beras atau jagung sebagai sumber pangan utama, telah berhutang budi banyak kepada para petani. Apakah kita pernah berterima kasih kepada para petani? Pernahkah kita benar-benar memperhatikan nasib petani? Apakah dengan merasa “sudah membeli” dengan harga yang selama ini ada, lantas kita mengira bahwa kita sudah berterima kasih kepada petani? Kita merasa sudah merasa memperhatikan nasib hidup petani? Cobalah untuk kali ini, benar-benar turun langsung ke lapangan, dan lihatlah hidup petani dengan sungguh-sungguh. Amati dan rasakan langsung.

Seperti yang terjadi saat ini di Kabupaten Malang. Saat ini para petani telah panen raya jagung. Namun nasib hidup petani yang panen jagung sangat memprihatinkan. Karena harga jagung anjlok drastis hingga sampai ada harga Rp. 2.000,-/ Kg jagung kering pipilan. Harga di lapangan memang sangat variatif, antara Rp. 2.000,- sampai dengan Rp. 3.000,- untuk setiap kilogramnya. Namun semua harga itu sangat jauh dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang sudah ditetapkan. Sedangkan harga beras jagung di pasaran bisa berkisar Rp. 8.000,- sampai dengan Rp. 14.000,- setiap kilogramnya. Kita yang selama ini memakan beras jagung dari petani, dengan membeli harga yang sesuai dengan harga pasar saat ini, apakah benar-benar memperhatikan nasib petani? Apakah kita tidak bisa merasakan adanya ketidak-adilan yang terjadi?

Apalagi saat ini terjadi krisis pandemi Covid-19, yang justru dimanfaatkan oleh para tengkulak untuk menekan serendah-rendahnya harga jagung di petani. Petani nasibnya semakin terpuruk. Dengan alasan pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini, nasib hidup para petani justru dijadikan permainan dan bulan-bulanan. Dihajar dan dimanfaatkan oleh para tengkulak yang hanya memburu keuntungan ekonomi untuk dirinya sendiri. Apakah hal ini tidak menjadi perhatian dari pemerintah? Apakah Pemkab Malang tidak memperhatikan nasib para warganya yang menjadi petani?

Bulan April – Juni 2020, para petani di Kabupaten Malang sedang panen raya jagung. Di tengah-tengah kondisi pandemi virus Covid-19 saat ini, keadaan tersebut semakin memperburuk nasib hidup petani. Harga jagung serta harga produksi pertanian di tingkat petani, mengalami penurunan yang drastis. Sedangkan harga di pasaran relatif stabil. Ini artinya ada yang sedang bermain-main dan memanfaatkan kondisi pandemi virus Covid-19 saat ini, sebagai kesempatan untuk terus menekan harga-harga produksi pertanian di tingkat para petani. Pemerintah harus segera turun tangan. Di Kabupaten Malang, Pemkab Malang harus segera terjun langsung dan bertindak.

Panglima Besar Jendral Sudirman dalam sebuah catatan yang pernah ditulisnya, mengatakan bahwa, “Petani harus dibela dan dilindungi. Karena dari petani seluruh negara diberi makan dan dihidupi. Membela petani adalah membela negara.”

Lantas, apa yang bisa kita lakukan bersama untuk membela petani? Untuk mengangkat dan membantu memperjuangkan nasib hidup para petani? Ini adalah tanggung jawab kita bersama. Tanggung jawab kita semuanya. Siapapun yang sudah memakan beras atau jagung sebagai sumber pangan selama hidupnya, mempunyai hutang budi yang besar kepada para petani. Semoga, hatinya terketuk. Semoga, jiwanya terpanggil. Semoga, terlahir gerakan kesadaran bersama: BELA PETANI, BELA NEGARA.

—–
Wahyu Eko Setiawan/ Sam WES
Direktur Utama
Pusat Studi Pangan Sehat Sekolah Budaya Tunggulwulung (PSPS SBT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *