Senin Wage, 21/10 Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu menyelenggarakan Bedah Tari Langen Beksan atau lebih akrab disebut Tayub dalam rangka acara bersih desa Giripurno, acara ini bertempet di balai desa. Tayub merupakan kesenian Jawa yang berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menampilkan gerak tari mengikuti alunan irama gendhing yang ditembangkan oleh sinden dan diiringi oleh  penabuh gamelan.

Tayub  berasal dari kata “tata dan guyub” (jawa: kiratha basa), yang artinya bersenang-senang dengan mengibing bersama penari wanita. Pagelaran tari tayub ini adalah bentuk seni pertunjukan masyarakat Jawa yang ditarikan secara berpasangan-pasangan antara penari dengan pengibing. Dengan kesenian pertunjukkan yang unik ini, namun tari Tayub memiliki penilaian yang buruk dari masyarakat.  Kesenian tayub ini memiliki image yang negatif yakni sebagai tarian mesum. Sebab, kesenian tayub ini dikenal dengan adegan sawer-saweran oleh penonton kepada para penari. Oleh karena itulah, tak heran jika kebanyakan orang tua melarang anak-anak mereka untuk menonton kesenian yang satu ini. Dari benak masyarakat sudah tertanam bahwa kesenian ini merupakan tontonan khusus orang dewasa.

Dibalik image yang negatif tersebut kesenian tayub juga memiliki nilai-nilai positif serta memiliki banyak makna dalam filosofi kehidupan bermasyarakat. Seiring berjalannya waktu kesenian tayub semakin tersingkir dari dunia kesenian. Munculnya berbagai kesenian yang baru dan modern membuat kesenian tayub semakin tak memiliki tempat di hati masyarakat. Dengan maraknya peduli ekonomi kreatif terhadap kesenian tradisional diharapkan kesenian Tayub dapat bangkit kembali seperti sedia kala.

Kebangkitan tayub ini diharapkan dapat menyambungkan putusnya pengetahuan dan regenerasi yang sempat hilang di dunia kesenian. Kembalinya seni tayub ini juga diharapkan mampu memberi warna baru pada dunia kesenian khususnya seni pertunjukkan. Yang nantinya mampu bersaing dengan kesenian-kesenian modern yang saat ini sangat digemari oleh masyarakat khususnya kaum milenial.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *